sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Mirae Asset Soroti Risiko Reklasifikasi MSCI, Pasar Saham hingga SBN Tertekan

Market news editor Shifa Nurhaliza Putri
18/10/2026 13:17 WIB
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Mirae Asset Soroti Risiko Reklasifikasi MSCI, Pasar Saham hingga SBN Tertekan. (Foto: Ilustrasi)
Mirae Asset Soroti Risiko Reklasifikasi MSCI, Pasar Saham hingga SBN Tertekan. (Foto: Ilustrasi)

Sejumlah saham komoditas juga dapat menjadi area yang dicermati, dengan tetap mempertimbangkan likuiditas dan karakteristik masing-masing saham.

“Kami tidak melihat perlunya investor terburu-buru kembali masuk ke pasar secara agresif. Namun, koreksi yang sangat tajam juga dapat membuka peluang secara selektif. Dalam kondisi seperti ini, kami lebih memilih saham yang relatif tidak bergantung pada aliran dana asing, sambil tetap mempertahankan fleksibilitas kas untuk menghadapi kemungkinan volatilitas lanjutan,” tutup Rully.

Potensi dampak perubahan klasifikasi MSCI juga dapat meluas ke pasar obligasi pemerintah melalui perubahan sentimen dan arus modal asing. Mirae Asset melihat dua kemungkinan arah dampak terhadap Surat Berharga Negara (SBN), bergantung pada perkembangan sentimen investor terhadap Indonesia.

Memburuknya sentimen dapat meningkatkan premi risiko, menekan nilai tukar rupiah, dan mendorong investor asing mengurangi eksposur pada berbagai aset domestik, termasuk SBN.

Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menjelaskan bahwa tekanan terhadap pasar keuangan domestik dalam jangka pendek perlu dicermati. Yield SBN tenor 10 tahun dilaporkan mencapai 7,33 persen pada pembukaan pasar, sementara rupiah berada di atas Rp18.000 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan di pasar keuangan domestik masih perlu diwaspadai.

“Kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ke 7,24 persen ketika yield US Treasury turun sebelumnya juga mengindikasikan adanya tekanan domestik tambahan. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah risiko nilai tukar. Jika sentimen MSCI memburuk dan mendorong investor mengurangi kepemilikan aset domestik, konversi dana ke valuta asing dapat menambah tekanan terhadap rupiah,” jelas Jessica.

Pada saat yang sama, peningkatan persepsi risiko dapat mendorong investor meminta yield SBN yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko investasi. Pelemahan rupiah yang berlanjut juga berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), sehingga penurunan yield domestik dapat tertahan meskipun kondisi pasar global membaik.

Di tengah volatilitas tersebut, Mirae Asset menilai tingkat yield SBN saat ini menarik untuk diakumulasi secara bertahap, terutama pada tenor pendek. Daya tarik tersebut didukung oleh pelebaran kembali selisih yield antara US Treasury dan obligasi pemerintah Indonesia (UST-INDOGB spread) hingga di atas 200 basis poin.

Meski menawarkan imbal hasil menarik, investor tetap perlu mewaspadai risiko pelemahan rupiah dan ketidakpastian arus modal. Bagi investor asing, pelemahan rupiah dapat menggerus imbal hasil investasi SBN, sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan BI dan menahan penurunan yield.

Mirae Asset menilai investor perlu lebih selektif terhadap obligasi berdurasi panjang yang lebih sensitif terhadap perubahan yield, dengan preferensi pada tenor pendek hingga menengah. Perkembangan MSCI, stabilitas rupiah, serta arus dana asing dan domestik akan terus dipantau untuk menentukan langkah investasi selanjutnya.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Halaman : 1 2 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement