Fund manager SGMC Capital, Mohit Mirpuri, mengatakan hanya satu indikator aksesibilitas yang mengalami penurunan, sementara Indonesia masih mencatat penilaian yang relatif baik dibandingkan sejumlah negara lain seperti Korea Selatan, China, dan India pada beberapa kriteria utama.
“Pasar mungkin akan mencoba membaca lebih jauh pesan di balik laporan tersebut, tetapi poin utamanya adalah ini bukan penurunan menyeluruh dalam kerangka aksesibilitas pasar Indonesia. Skenario dasar kami tetap Indonesia mempertahankan status Emerging Market,” ujar Mirpuri seperti dikutip Reuters, Jumat (19/6/2026).
Sorotan MSCI terhadap transparansi pasar juga menambah perhatian investor terhadap hasil tinjauan klasifikasi yang akan diumumkan pekan depan.
Reuters melaporkan, apabila Indonesia diturunkan dari status emerging market menjadi frontier market, langkah tersebut berpotensi memicu arus keluar dana hingga mencapai USD13 miliar atau setara dengan Rp232,05 triliun (asumsi kurs Rp17.850 per USD) dari pasar domestik.
Sejak MSCI pertama kali menyampaikan peringatan terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada Januari lalu, regulator dan otoritas pasar telah meluncurkan sejumlah langkah perbaikan. Salah satunya adalah peningkatan ketentuan minimum free float emiten menjadi 15 persen.