Seturut itu, Kiki juga menyoroti kenaikan inflasi global sebagai imbas dari ketegangan antara AS dan Iran, yang memaksa sejumlah bank sentral di negara-negara maju untuk memperketat kebijakan moneter mereka. Tekanan inflasi ini sendiri dipicu oleh lonjakan harga komoditas barang serta energi.
"Di tengah kondisi tersebut, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada rapat Federal Open Market Committee pada akhir April 2026," tuturnya.
Kiki juga mengatakan soal perekonomian AS diprediksi melemah pada kuartal I-2026, dengan proyeksi pertumbuhan yang terkoreksi akibat tekanan inflasi yang persisten. Sementara ekonomi China dilaporkan tetap tumbuh sesuai dengan target yang ditetapkan, yakni mencapai angka 5,0 persen pada periode yang sama.
Sementara untuk kondisi di dalam negeri, Kiki menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terpantau sangat solid di level 5,61 persen. Dia menekankan bahwa performa ekonomi yang kuat tersebut didorong oleh kontribusi yang signifikan dari konsumsi rumah tangga serta realisasi belanja pemerintah.
Kendati demikian, OJK turut mewaspadai tren global karena sudah berdampak pada pelemahan IHSG senilai 19,55 persen sepanjang periode Januari hingga April 2026. Lagi-lagi, faktor eksternal semacam ketidakpasatian global disebut-sebut menjadi pemantik pelemahan pasar keuangan dunia, yang turut merambat ke IHSG.