Di tengah kondisi tersebut, pasar saham AS relatif mampu bertahan dari tekanan kenaikan yield.
Kondisi ini menjadi salah satu perhatian investor karena menunjukkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi belum sepenuhnya mendorong aksi jual besar-besaran di pasar saham.
Namun, ruang rebound IHSG pada Oktober tetap berhadapan dengan sejumlah risiko domestik.
Salah satunya datang dari nilai tukar rupiah yang pada Selasa (29/9/2026) sempat menembus level Rp18.000 per USD. Tekanan terhadap rupiah antara lain datang dari kenaikan yield Treasury, penguatan dolar AS, serta meningkatnya harga minyak di tengah ketegangan geopolitik.
Bank Indonesia (BI) juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan intervensi dilakukan melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan non-deliverable forward (NDF), dengan porsi intervensi spot yang kini sekitar 30 persen dari total intervensi.