Kondisi pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan eksternal yang cukup kuat. Munculnya sentimen risk-off global telah memicu penguatan indeks Dollar AS (DXY), yang berujung pada depresiasi Rupiah hingga menembus level Rp16.800 per Dollar AS.
Situasi ini membuat ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter menjadi sangat terbatas. Rully memperkirakan, BI akan bertindak sangat hati-hati dalam menentukan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20-21 Januari mendatang.
“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” tutur Rully.
Mirae Asset memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat ke level 5,3 persen pada 2026, naik dari estimasi 2025 yang sebesar 5,1 persen. Keselarasan antara stimulus fiskal dan penjagaan likuiditas moneter menjadi kunci utama untuk mencapai target indeks di level 10.500.
Sektor komoditas dan pertambangan, seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS, tercatat menjadi motor utama penguatan indeks sejak awal tahun seiring dengan tren kenaikan harga emas dan ketidakpastian geopolitik. Selain itu, sektor teknologi dan telekomunikasi juga diprediksi akan menjadi penggerak baru.