Adapun selama semester pertama 2026, bisnis Mining Solutions & Heavy Equipment mencatatkan pos non-berulang sebesar Rp2,1 triliun pada divisi geothermal dan nikel. Dengan memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan turun 88 persen menjadi Rp607 miliar.
Hasil yang lebih rendah ini disebabkan oleh minimnya penjualan emas dari tambang emas Martabe, serta dampak dari penurunan kuota produksi batu bara nasional atau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang menyebabkan melemahnya permintaan alat berat, jasa pertambangan, dan penurunan volume pertambangan batu bara.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Astra International, Frans Kesuma menambahkan, pemangkasan RKAB menjadi salah satu faktor utama yang menekan volume bisnis pertambangan Astra. Dia menyebut RKAB secara nasional turun sekitar 25 persen, meskipun dalam revisinya terdapat peningkatan sekitar 5 persen dari total volume yang ditargetkan pelanggan Astra.
"Kita tahu RKAB turun 25 persen, ini mungkin yang pertama kali dalam sejarah industri pertambangan. Sehingga kita mengalami penurunan dari volume produksi batu bara, karena itu memang sesuai dari target RKAB, kami tidak bisa meningkatkan volume itu," ujar dia.
Frans mengatakan, strategi yang dapat dilakukan perseroan dalam menghadapi tekanan volume tersebut adalah meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional. Dengan demikian, penurunan pendapatan akibat volume yang lebih rendah dapat diimbangi dengan efisiensi biaya agar tekanan terhadap profitabilitas tidak semakin besar.