Seturut itu, penanaman modal riil juga mencatatkan angka di atas Rp1.010,6 triliun dengan tren akselerasi sebesar 7,2 persen (yoy).
Merespons tingginya kebutuhan dana untuk menggerakkan roda pembangunan, pemerintah menilai perluasan variasi instrumen pendanaan menjadi kebijakan yang mendesak. Kebutuhan modal operasional negara pada 2026 diproyeksikan berkisar di angka Rp7.400 triliun dan ditaksir melonjak hingga menyentuh Rp9.200 triliun pada tahun 2029 nanti.
Berkaitan dengan target pembiayaan tersebut, otoritas mendorong eksplorasi berbagai sumber penarikan utang baru, salah satunya dengan mengoptimalkan penerbitan instrumen global seperti Panda Bond dan Samurai Bond.
“Jadi kalau ini adalah momentum kita juga untuk diversifikasi daripada pinjaman. Nah ini mungkin beberapa yang bisa didorong selain Panda Bond, tentu Samurai Bond. Jadi kalau kita bisa dorong diversifikasi tentu akan lebih baik,” kata Airlangga.