"Prodia menunjukkan daya tahan dan kemampuan adaptasi di tengah dinamika ekonomi dengan meluncurkan 38 tes baru dan menghadirkan Next Generation Laboratory melalui Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC) by Spectrometry, memperluas jaringan menjadi 402 outlet di 34 provinsi, serta memperkuat kemitraan hingga ke Taiwan, Malaysia, dan Timor Leste," tutur dia.
Selain itu, Prodia juga melakukan langkah korporasi dengan mengakuisisi 30 persen saham PT Prodia Stemcell Indonesia (ProSTEM) untuk memperkuat fondasi layanan terapi regeneratif di masa depan.
Direktur Keuangan & Keberlanjutan Prodia, Marina Eka Amalia menambahkan, perseroan akan terus mengoptimalkan keunggulan kompetitif di bidang layanan digital serta pemeriksaan klinis kompleks.
“Kami akan fokus pada layanan berbasis digital serta mengoptimalkan competitive advantages yang telah kami miliki dengan lebih agresif dan terukur. Setiap langkah ekspansi kami rancang secara selektif agar tidak hanya memperluas akses layanan, tetapi juga menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pelanggan, pemegang saham, dan seluruh pemangku kepentingan," kata Marina.
Sepanjang 2025, prodia mencatat pendapatan sebesar Rp2,28 triliun, atau naik 1,31 persen dari 2024 yang sebesar Rp2,25 triliun. Sementara laba bersih perseroan turun 23 persen dari Rp270 miliar menjadi Rp207 miliar.