sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Proline (PRDL) Bidik Dana IPO Rp62,75 Miliar, Lebih dari Separuh untuk Lunasi Utang

Market news editor Rahmat Fiansyah
18/06/2026 10:17 WIB
PT Proline Diagonistic Line Tbk atau Proline (PRDL) menggelar Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT Proline Diagonistic Line Tbk atau Proline (PRDL) menggelar Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) di  BEI. (Foto: Ist)
PT Proline Diagonistic Line Tbk atau Proline (PRDL) menggelar Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) di BEI. (Foto: Ist)

IDXChannel - PT Proline Diagonistic Line Tbk atau Proline (PRDL) menggelar Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham PRDL rencananya dicatatkan di Bursa pada Juli 2026.

Produsen alat kesehatan In Vitro Diagnostic (IDV) tersebut akan menerbitkan 522,9 juta saham baru atau setara 30 persen dari total modal ditempatkan dan disetor perseroan. Dengan harga IPO di kisaran Rp100-Rp120, pereroan berpotensi memperoleh dana sebanyak-banyaknya Rp62,75 miliar.

Dalam prospektus IPO yang diterbitkan Kamis (18/6/2026), dana IPO setelah dikurang biaya-biaya emisi efek, sebanyak Rp35,67 miliar atau 57 persen akan digunakan untuk melunasi utang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Pan Indonesia Tbk (Panin). 

Untuk BCA, Proline berencana mempercepat pelunasan utang sebesar Rp21,5 miliar yang seharusnya jatuh tempo pada September 2023. Pinjaman dengan bunga 7,75 persen per tahun itu sebelumnya digunakan untuk membangun kantor, gudang, dan laboratorium di Cikarang, Jawa Barat.

Sementara untuk Panin, Proline akan melunasi pinjaman sebesar Rp14,12 miliar yang jatuh tempo pada Agustus 2033. Pinjaman yang dikenakan bunga 2 persen per tahun plus spread 0,5 tahun itu dipakai untuk membeli tanah dan bangunan yang menjadi fasilitas produksi perseroan di Cikarang, Jawa Barat.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi beban bunga utang, sehingga memperkuat likuiditas sekaligus struktur permodalan. Hingga 31 Desember 2025, perseroan memiliki liabilitas sebesar Rp111,37 miliar dengan porsi utang bank mencapai Rp94,2 miliar atau 85 persen dari total liabilitas.

Di samping membayar utang, perseroan juga berencana untuk menggunakan 28,92 persen dana IPO untuk belanja modal. Alokasi tersebut termasuk untuk membeli mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan, system software, relayout area produksi, serta penambahan alat untuk Lab Biomolekuler.

Kemudian sisanya sekitar 8,51 persen akan digunakan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, biaya product & development, serta selling & marketing.

Apabila dana IPO tidak digunakan langsung, maka perseroan hanya dapat menempatkannya pada instrumen keuangan yang aman, likuid, dan tidak volatil. Sementara jika dana IPO tidak mencukupi untuk memenuhi rencana di atas, maka perseroan akan membiayai sepenuhnya dengan dana kas internal atau pinjaman dari bank atau lembaga non-perbankan.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement