Langkah ini diharapkan dapat mengurangi beban bunga utang, sehingga memperkuat likuiditas sekaligus struktur permodalan. Hingga 31 Desember 2025, perseroan memiliki liabilitas sebesar Rp111,37 miliar dengan porsi utang bank mencapai Rp94,2 miliar atau 85 persen dari total liabilitas.
Di samping membayar utang, perseroan juga berencana untuk menggunakan 28,92 persen dana IPO untuk belanja modal. Alokasi tersebut termasuk untuk membeli mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan, system software, relayout area produksi, serta penambahan alat untuk Lab Biomolekuler.
Kemudian sisanya sekitar 8,51 persen akan digunakan untuk modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, biaya product & development, serta selling & marketing.
Apabila dana IPO tidak digunakan langsung, maka perseroan hanya dapat menempatkannya pada instrumen keuangan yang aman, likuid, dan tidak volatil. Sementara jika dana IPO tidak mencukupi untuk memenuhi rencana di atas, maka perseroan akan membiayai sepenuhnya dengan dana kas internal atau pinjaman dari bank atau lembaga non-perbankan.
(Rahmat Fiansyah)