"Emas terpukul cukup parah karena data utama yang kuat dan laporan secara keseluruhan membuat kenaikan suku bunga pada September jauh lebih mungkin, kecuali data CPI menunjukkan hasil yang lemah," ujar analis independen Tai Wong, dikutip Reuters.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam rapat 15-16 September mencapai sekitar 65 persen, naik dari sekitar 55 persen sebelum data tenaga kerja AS dirilis.
Perhatian investor selanjutnya akan beralih ke data inflasi AS. Data Producer Price Index (PPI) akan dirilis Kamis (10/9), disusul Consumer Price Index (CPI) pada Jumat (11/9). Kedua data tersebut berpotensi menjadi katalis utama bagi pergerakan emas sepanjang pekan.
Jika inflasi AS kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat semakin menguat dan berpotensi menekan emas karena sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih lemah dapat kembali menghidupkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan memberikan ruang bagi emas untuk menguat.