Survei mingguan Kitco News menunjukkan 53 persen analis Wall Street memperkirakan harga emas naik, sementara 40 persen memilih netral, dan hanya 7 persen yang bersikap bearish. Di kalangan investor ritel, 62 persen dari 223 responden optimistis harga emas akan menguat.
Sentimen bullish masih ditopang ketidakpastian global dan ekspektasi arah kebijakan The Fed. “Tidak ada yang berubah. Ketidakpastian tetap mendominasi. Sementara itu, pertemuan FOMC berikutnya kian mendekat, dan pasar belum melihat potensi perubahan suku bunga hingga paling cepat Oktober,” ujar analis Barchart.com, Darin Newsom.
Meski demikian, analis Commerzbank menilai reli harga emas mulai kehilangan tenaga. Mereka mencatat, meski dolar AS sempat melemah tajam terhadap euro, emas tetap tertahan di bawah USD3.400 per ons troi. Lonjakan harga pada logam mulia lain seperti perak dan platinum disebut sebagai tanda investor mulai mencari alternatif.
Namun analis lain tetap optimis. “Ada banyak faktor pendukung, mulai dari ketegangan geopolitik, tren pelemahan dolar AS, hingga ketidakpastian seputar masa depan Ketua The Fed,” ujar analis Asset Strategies International, Rich Checkan. Hal senada disampaikan analis Forex.com, James Stanley, yang melihat respons teknikal kuat emas pada zona support.
Sementara itu, analis Adrian Day Asset Management Adrian Day memperkirakan The Fed masih enggan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. “Jerome Powell tampaknya masih menahan diri untuk tidak memangkas suku bunga, setidaknya karena tiga alasan utama,” kata dia, sembari menyoroti kekhawatiran atas ketidakpastian ekonomi.