sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kepercayaan Konsumen Turun, Mirrae Asset: Pasar Mulai Incar Saham Berbasis Komoditas

Market news editor Shifa Nurhaliza Putri
14/04/2026 12:30 WIB
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti tren pelemahan kepercayaan konsumen sebagai sinyal meningkatnya kehati-hatian rumah tangga.
Kepercayaan Konsumen Turun, Mirrae Asset: Pasar Mulai Incar Saham Berbasis Komoditas. (Foto: Ilustrasi)
Kepercayaan Konsumen Turun, Mirrae Asset: Pasar Mulai Incar Saham Berbasis Komoditas. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyoroti tren pelemahan kepercayaan konsumen yang berlanjut dalam tiga bulan terakhir sebagai sinyal meningkatnya kehati-hatian rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan global.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat turun ke level 122,9 pada Maret 2026 dari 125,2 pada bulan sebelumnya, menjadi level terendah dalam lima bulan terakhir. Meski masih berada di atas ambang optimisme 100, tren penurunan ini dinilai mencerminkan perubahan ekspektasi konsumen terhadap prospek ke depan, bukan sekadar kondisi saat ini.

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai pelemahan ini mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat. Penurunan terdalam tercatat pada komponen ekspektasi aktivitas usaha yang turun 5,4 poin, diikuti ekspektasi ketersediaan lapangan kerja turun 3,7 poin, serta ekspektasi pendapatan turun 3,0 poin.

"Penurunan IKK selama tiga bulan berturut-turut mencerminkan ekspektasi konsumen ke depan yang cenderung terus melemah. Namun, selama IKK masih berada di atas 100, kami menilai konsumsi rumah tangga tetap cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan, meskipun dengan komposisi yang semakin defensif. Pengeluaran akan lebih terkonsentrasi pada kebutuhan primer, sementara pembelian barang tahan lama dan diskresioner cenderung tertahan," ujar Novani, dalam keterangan resmi yang diterima pada Selasa (14/04/2026).

Pelemahan lebih tajam terjadi pada kelompok menengah ke atas dengan pengeluaran bulanan Rp2,1–4 juta dan di atas Rp5 juta, yang secara historis lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi makro. Di sisi lain, peningkatan porsi konsumsi pada kelompok berpenghasilan rendah mengindikasikan tekanan daya beli yang mulai dirasakan segmen rentan.

"Dinamika pasar tenaga kerja menjadi faktor paling menentukan saat ini. Tekanan tersebut diperparah oleh inflasi energi dan pelemahan rupiah yang mengerek harga barang impor, sehingga daya beli riil rumah tangga cenderung semakin tergerus. Pemulihan akan sangat bergantung pada stabilitas lapangan kerja, terkendalinya inflasi, serta kepastian arah kebijakan fiskal," tambah Novani.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement