IDXChannel - Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan rebalancing saham Indonesia pada Mei 2026 dinilai akan membuat pergerakan IHSG lebih tertahan dan sensitif terhadap arus dana asing.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan bahwa dalam kondisi normal, review indeks seperti MSCI biasanya memicu aliran dana masuk (inflow) karena adanya penambahan bobot atau saham baru di indeks.
Namun dengan adanya pembekuan, katalis tersebut praktis hilang, sehingga pasar lebih didominasi oleh sentimen global, pergerakan nilai tukar, dan faktor domestik seperti suku bunga serta stabilitas fiskal.
"Dampaknya, volatilitas IHSG berpotensi meningkat dengan kecenderungan bergerak dalam rentang lebar, terutama di kisaran 6.917 hingga 7.400. Level psikologis 7.000 menjadi sangat krusial jika terjadi breakdown di bawah level tersebut, maka tekanan jual berpotensi meningkat karena memicu aksi cut loss dan memperkuat persepsi risk-off dari investor asing," ujar Hendra kepada IDXChannel, Kamis (30/4/2026).
Di sisi lain, kata Hendra, kehati-hatian MSCI terhadap berbagai reformasi pasar modal Indonesia, mulai dari fleksibilitas aturan free float hingga penerapan High Shareholding Concentration (HSC), lebih disebabkan karena lembaga tersebut ingin melihat faktor kredibilitas implementasi dan konsistensi kebijakan tersebut dalam jangka panjang.
MSCI sebagai penyedia indeks global sangat menekankan aspek investability, yakni kemudahan akses, transparansi, dan kepastian bagi investor institusi global.
"Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia telah mengambil langkah progresif, pasar global masih menunggu bukti bahwa aturan tersebut benar-benar efektif meningkatkan likuiditas, mengurangi konsentrasi kepemilikan, serta tidak menimbulkan ketidakpastian baru," kata Hendra.
Menurutnya, tantangan di Mei juga semakin besar karena tidak hanya MSCI, tetapi juga FTSE Russell yang memiliki standar serupa dalam menilai kelayakan pasar.
"Artinya, Indonesia berada dalam fase pembuktian, di mana keberhasilan reformasi tidak cukup dinilai dari kebijakan yang diumumkan, tetapi dari dampak riil di pasar," kata dia.
Dia menekankan soal secara keseluruhan selama periode pembekuan ini, IHSG cenderung bergerak fluktuatif dengan bias melemah apabila tekanan eksternal dan outflow asing berlanjut. Namun, jika stabilitas makro tetap terjaga,terutama nilai tukar rupiah dan inflasi serta reformasi pasar mulai menunjukkan hasil konkret, maka kepercayaan investor berpotensi pulih secara bertahap.
"Dalam jangka pendek, strategi investor cenderung defensif dengan fokus pada saham berfundamental kuat dan likuid, sambil menunggu kejelasan arah kebijakan global dan keputusan lanjutan dari MSCI maupun FTSE Russell," tuturnya.
(NIA DEVIYANA)