MSCI sebagai penyedia indeks global sangat menekankan aspek investability, yakni kemudahan akses, transparansi, dan kepastian bagi investor institusi global.
"Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia telah mengambil langkah progresif, pasar global masih menunggu bukti bahwa aturan tersebut benar-benar efektif meningkatkan likuiditas, mengurangi konsentrasi kepemilikan, serta tidak menimbulkan ketidakpastian baru," kata Hendra.
Menurutnya, tantangan di Mei juga semakin besar karena tidak hanya MSCI, tetapi juga FTSE Russell yang memiliki standar serupa dalam menilai kelayakan pasar.
"Artinya, Indonesia berada dalam fase pembuktian, di mana keberhasilan reformasi tidak cukup dinilai dari kebijakan yang diumumkan, tetapi dari dampak riil di pasar," kata dia.
Dia menekankan soal secara keseluruhan selama periode pembekuan ini, IHSG cenderung bergerak fluktuatif dengan bias melemah apabila tekanan eksternal dan outflow asing berlanjut. Namun, jika stabilitas makro tetap terjaga,terutama nilai tukar rupiah dan inflasi serta reformasi pasar mulai menunjukkan hasil konkret, maka kepercayaan investor berpotensi pulih secara bertahap.
"Dalam jangka pendek, strategi investor cenderung defensif dengan fokus pada saham berfundamental kuat dan likuid, sambil menunggu kejelasan arah kebijakan global dan keputusan lanjutan dari MSCI maupun FTSE Russell," tuturnya.
(NIA DEVIYANA)