Sebagai perusahaan pembiayaan independen tanpa ikatan afiliasi merek maupun kelompok perbankan tertentu, perseroan memiliki fleksibilitas tinggi dalam menjalin kemitraan dengan berbagai agen pemegang merek alat berat dan truk niaga.
Jaringan mitra terkemuka seperti Komatsu, Volvo, Isuzu, hingga Sinotruk dimanfaatkan secara optimal untuk merespons kebutuhan alat produksi di sektor tambang dan perkebunan.
"Posisi sebagai leasing independen memberi kami ruang gerak luas untuk bermitra dengan berbagai prinsipal alat berat dan truk niaga terkemuka, seperti Komatsu, Volvo, hingga Sinotruk. Hal ini menopang penyaluran pembiayaan alat kerja di sektor ekstraktif setelah pada 2025 kami mencatatkan total pembiayaan Rp5 triliun dengan piutang Rp3 triliun," ujar Khim.
Di tengah kenaikan NPF industri multifinance nasional ke level 3,01 persen dan pergeseran tren pasar yang lebih membutuhkan likuiditas modal kerja, perseroan memperketat proses underwriting dan pemantauan aset secara ketat.
Disiplin mitigasi risiko tersebut sukses membalikkan kinerja profitabilitas perseroan menjadi laba bersih setelah sebelumnya menanggung beban pencadangan.