IDXChannel - Rilis terbaru inflasi dan laporan awal kinerja perusahaan akan menjadi sentimen yang memengaruhi Wall Street pekan depan. Di samping itu, para trader masih mencermati sinyal mengenai kemungkinan meredanya perang Timur Tengah.
Indeks S&P 500 (.SPX) mencatat kenaikan pada minggu perdagangan singkat menjelang Paskah, mengakhiri tren penurunan selama lima minggu. Indeks acuan tersebut sebelumnya mencatat kinerja kuartalan terburuk sejak 2022, tertekan sejak akhir Februari akibat perang dan lonjakan harga energi.
"Sulit untuk mengalihkan perhatian pasar dari Timur Tengah, harga minyak, dan risiko yang muncul," kata co-chief investment strategist di Manulife John Hancock Investments, Matthew Miskin dilansir Reuters, Minggu (5/4/2026).
Pasar masih sangat terfokus pada risiko geopolitik dan perkembangannya.
Harga minyak mentah AS sempat menembus USD110 per barel pada Kamis, setelah sebelumnya pada minggu yang sama ditutup di atas USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Indeks harga konsumen (CPI) minggu depan, yang merupakan indikator inflasi penting, menjadi ujian awal dari dampak lonjakan harga energi akibat perang.
Laporan CPI Maret yang akan dirilis pada 10 April, diperkirakan naik 0,9 persen secara bulanan menurut survei Reuters. Tanpa memasukkan harga energi dan makanan, CPI inti diperkirakan naik 0,3 persen.
Minggu depan juga akan dirilis indikator inflasi lainnya, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), meskipun data tersebut mencerminkan kondisi Februari, sebelum dampak perang terasa penuh.