IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Kamis (19/2/2026) waktu setempat setelah risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) menunjukkan nada yang lebih hawkish dari perkiraan pasar.
Melansir Investing, indeks acuan S&P 500 turun 0,3 persen ke 6.860,28. Indeks teknologi NASDAQ Composite melemah 0,4 persen ke 22.660,59, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,4 persen ke 49.484,00.
Sehari sebelumnya, Wall Street ditutup menguat ditopang rebound saham teknologi dan lonjakan saham Nvidia yang menjadi primadona sektor kecerdasan buatan (AI). Kenaikan tersebut sempat meredam kekhawatiran pasar atas sinyal hawkish bank sentral.
Risalah pertemuan kebijakan moneter Januari menunjukkan hampir seluruh anggota Federal Open Market Committee (FOMC) sepakat mempertahankan suku bunga. Namun, dokumen tersebut juga memperlihatkan perpecahan pandangan terkait arah kebijakan selanjutnya.
Sejumlah pejabat menyatakan kesiapan untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap berada di atas target 2 persen.
Kepala Strategi Makro Global Deutsche Bank, Jim Reid menilai, bahasa dalam risalah membuka kemungkinan langkah yang lebih dua arah terhadap suku bunga, meski belum mengarah pada keputusan kenaikan dalam waktu dekat.
Risalah juga menyoroti sektor AI sebagai sumber ketidakpastian baru bagi The Fed. Para pembuat kebijakan terbelah mengenai apakah pertumbuhan pesat industri ini akan mendorong inflasi atau justru menekannya melalui peningkatan produktivitas.
Dari sisi data ekonomi, neraca perdagangan AS mencatat defisit barang dan jasa melebar menjadi USD70,3 miliar pada Desember, menurut data US Census Bureau dan Bureau of Economic Analysis. Secara tahunan, defisit perdagangan 2025 membengkak menjadi USD901,5 miliar.
Sementara itu, data dari US Department of Labor menunjukkan klaim tunjangan pengangguran mingguan turun menjadi 206 ribu, lebih rendah dari ekspektasi 223 ribu mengindikasikan pasar tenaga kerja masih relatif solid.
Di sisi korporasi, saham ritel raksasa Walmart menjadi sorotan. Perusahaan melaporkan kinerja kuartalan yang melampaui ekspektasi laba dan pendapatan, sekaligus mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) senilai USD30 miliar.
Namun, Walmart memberikan proyeksi laba kuartal berjalan dan tahun fiskal 2027 yang berada di bawah konsensus analis. Laporan ini menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan CEO baru John Furner.
(DESI ANGRIANI)