Penurunan harga energi mendorong investor menurunkan ekspektasi mereka terhadap pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed). Pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 55 persen untuk kenaikan suku bunga pada September, turun dari angka 67 persen yang tercatat dua hari sebelumnya.
Investor juga memusatkan perhatian pada data pasar tenaga kerja AS yang akan segera dirilis guna mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Laporan ADP National Employment menunjukkan perlambatan perekrutan di sektor swasta pada Juli, sementara perhatian kini beralih ke laporan nonfarm payrolls pada Jumat.
Dari internal, pertumbuhan PDB tahunan kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan, di mana ekonomi tumbuh sebesar 5,29 persen secara tahunan (year-on-year), memberikan sentimen positif. Meski demikian, angka ini masih sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal pertama.
Perhatian pelaku pasar pada Agustus selanjutnya tidak hanya tertuju pada hasil peninjauan indeks MSCI, namun juga menantikan pengumuman FTSE Russell periode 10-14 Agustus 2026. Terkait status pembekuan (freeze) Indonesia, diperkirakan menjadi salah satu katalis penting bagi pasar saham dalam waktu dekat.
Sementara itu, MSCIakan mengumumkan hasil peninjauan indeks kuartalan pada 13 Agustus 2026 waktu Indonesia. Perubahan tersebut akan mulai berlaku pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Oleh karena itu, arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi, sehingga berpotensi menjadi sentimen yang membayangi pergerakan pasar.
(NIA DEVIYANA)