sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Rupiah Melemah 0,39 Persen ke Rp18.000 per Dolar AS dalam Sepekan

Market news editor Anggie Ariesta
11/07/2026 12:39 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan 6-10 Juli 2026 berakhir melemah 0,39 persen dan menyentuh level Rp18.000-an.
Rupiah Melemah 0,39 Persen ke Rp18.000 per Dolar AS dalam Sepekan. (Foto: iNews Media Group)
Rupiah Melemah 0,39 Persen ke Rp18.000 per Dolar AS dalam Sepekan. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sepekan 6-10 Juli 2026 berakhir melemah 0,39 persen dan menyentuh level Rp18.000-an. Hal ini dipengaruhi sentimen global dan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pada Senin (6/7/2026) ditutup melemah 0,18 persen ke Rp17.995 per dolar AS. Kemudian pada Jumat (10/7) rupiah juga ditutup koreksi 0,35 persen ke Rp18.065 per dolar AS.

Berbeda dengan data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat pada hari terakhir perdagangan Jumat yakni Rp18.069 per dolar AS. Namun, dalam sepekan, rupiah Jisdor juga melemah hingga 0,60 persen.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuabi mengatakan rupiah sepekan ini salah satunya dipengaruhi sentimen domestik yaitu pasar merespons negatif laporan terbaru Fitch Ratings yang memberi pandangan mendalam mengenai rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia.

"Namun demikian, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi,” ujar Ibrahim dalam risetnya.

Menurut Ibrahim, lembaga pemeringkat itu memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia.

Tercatat pada Maret 2026 peringkat utang Indonesia masih dipertahankan pada level BBB dan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif.

Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah  setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit.

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD1,61 miliar pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun.

Kemudian, dari sentimen global, Ibrahim menyoroti kembali memanasnya eskalasi geopolitik AS-Iran yang terjadi setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru. Serangan tersebut bertujuan untuk menjaga Selat Hormuz yang penting tetap terbuka untuk lalu lintas.

Sebelumnya Trump juga menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah berakhir. Sementara Iran mengatakan bahwa serangan yang dilakukan ke situs militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai tanggapan atas serangan AS sebelumnya terhadap infrastruktur.

Selain itu, dalam risalah rapat Fed pada Juni, yang dirilis pada Rabu memperlihatkan para pembuat kebijakan sebagian besar terpecah pendapat mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini.

Namun, risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran di antara para bankir sentral mengenai inflasi yang kaku, sebuah tren yang dapat memicu kenaikan suku bunga di akhir tahun, terutama jika tekanan harga menunjukkan sedikit tanda-tanda pendinginan.

Dengan demikian, Ibrahim memprediksi bahwa nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin pekan depan akan bergerak melemah dalam rentang Rp18.060-Rp18.110 per dolar AS. Sedangkan untuk sepekan ke depan akan bergerak di kisaran Rp17.870-Rp18.300 per dolar AS.

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement