Menurut Ibrahim, lembaga pemeringkat itu memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia.
Tercatat pada Maret 2026 peringkat utang Indonesia masih dipertahankan pada level BBB dan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif.
Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit.
Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD1,61 miliar pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun.
Kemudian, dari sentimen global, Ibrahim menyoroti kembali memanasnya eskalasi geopolitik AS-Iran yang terjadi setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru. Serangan tersebut bertujuan untuk menjaga Selat Hormuz yang penting tetap terbuka untuk lalu lintas.