Selain disrupsi rantai pasok energi di kawasan Timur Tengah, sentimen penekan utama bagi pasar valas datang dari sikap agresif bank sentral Amerika Serikat. Pelaku pasar global memilih bersikap defensif sembari mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan yang berpotensi melambungkan kembali indeks dolar AS.
"Pasar saat ini menantikan keputusan suku bunga The Fed Kamis dini hari nanti pukul 01.00 WIB, di mana probabilitas CME FedWatch mencapai hampir 92,4 persen bahwa The Fed di bawah Kevin Warsh akan menaikkan suku bunga 25 bps ke kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen," tutur Ibrahim.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada rilis proyeksi ekonomi The Fed terkini serta pernyataan resmi Kevin Warsh guna membaca arah kebijakan moneter ke depan.
Sentimen eksternal yang kian mahal akibat fenomena global duration tersebut kian mempersempit ruang gerak rupiah, terlebih di tengah permintaan domestik yang belum sepenuhnya solid.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menyoroti beban berat yang dipikul nakhoda baru Kementerian Keuangan dalam menavigasi postur anggaran belanja negara. Otoritas fiskal dituntut cermat meracik stimulus agar instrumen APBN tetap mampu menopang daya beli tanpa mengorbankan disiplin anggaran.