Menurutnya, eskalasi ketegangan di kawasan tersebut serta ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga AS menjadi faktor yang masih diperhatikan pelaku pasar.
“Namun, para pedagang tetap berhati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti pembukaan kembali selat secara penuh; negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, dan pengaturan keamanan yang lebih luas masih belum terselesaikan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Di sisi domestik, posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap kuat dinilai menjadi salah satu faktor penyangga bagi stabilitas rupiah di tengah tekanan dari pasar global.
Pergerakan rupiah diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan geopolitik global dan sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat, terutama data inflasi yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada pekan depan akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.780 hingga Rp18.020 per USD.
(DESI ANGRIANI)