“Pelaku pasar cenderung menahan diri dari mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (28/8/2026).
Menurut Ibrahim, indikator inflasi menjadi acuan krusial bagi Bank Indonesia dalam mengarahkan kebijakan moneter serta tingkat suku bunga ke depan. Laju inflasi yang terkendali berpotensi membuka ruang pelonggaran moneter, sedangkan inflasi yang tinggi akan menahan suku bunga tetap berada pada level ketat.
Di samping itu, rilis data perdagangan bulan Juli yang disajikan BPS turut menjadi perhatian karena mencerminkan dinamika pasokan, tingkat permintaan, serta biaya logistik pangan. Kenaikan ketergantungan pada impor pangan di tengah pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan beban biaya impor.
“Serta melemahnya mata uang rupiah dalam laporan perdagangan membuat biaya impor pangan menjadi lebih mahal,” ujarnya.
Dari ranah mancanegara, eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi dinamika perdagangan global. Selain itu, pelaku pasar internasional bersikap hati-hati dalam mencermati pidato perdana Kevin Warsh yang baru ditetapkan sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed).