sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham EMAS Jatuh 14 Persen usai Bobot GDXJ Dipangkas, Outflow Mengintai

Market news editor TIM RISET IDX CHANNEL
14/09/2026 10:04 WIB
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) jatuh 14,29 persen ke Rp7.500 per unit hingga pukul 09.54 WIB pada perdagangan Senin (14/9/2026).
Saham EMAS Jatuh 14 Persen usai Bobot GDXJ Dipangkas, Outflow Mengintai. (Foto: Magnific)
Saham EMAS Jatuh 14 Persen usai Bobot GDXJ Dipangkas, Outflow Mengintai. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) jatuh 14,29 persen ke Rp7.500 per unit hingga pukul 09.54 WIB pada perdagangan Senin (14/9/2026).

Penurunan tajam tersebut terjadi di tengah rebalancing indeks Global Gold Miners Index (GDX) dan Global Junior Gold Miners Index (GDXJ), yang membuat bobot EMAS di GDXJ justru menyusut dan berpotensi memicu outflow dana pasif.

Berdasarkan catatan BRI Danareksa Sekuritas, EMAS berpotensi menghadapi outflow sekitar USD18 juta akibat perubahan bobot tersebut.

Sebaliknya, sejumlah saham emas Indonesia mendapat tambahan bobot yang berpotensi mendorong aliran dana pasif masuk.

Dalam evaluasi September, MarketVector mempertahankan seluruh saham Indonesia yang menjadi konstituen GDX dan GDXJ.

Artinya, tidak ada emiten Indonesia yang masuk maupun keluar dari kedua indeks tersebut.

Namun, perubahan faktor free float membuat bobot sejumlah saham mengalami pergeseran.

Di GDX, bobot PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) meningkat menjadi 0,74 persen dari sebelumnya 0,60 persen. Sementara itu, bobot PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik menjadi 0,48 persen dari 0,41 persen.

Kemudian, di GDXJ, bobot BRMS meningkat menjadi 0,88 persen, sedangkan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik menjadi 0,08 persen. Sebaliknya, bobot EMAS turun menjadi 0,57 persen. Sementara bobot PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) tetap sebesar 0,02 persen.

Perubahan tersebut berlaku efektif pada 18 September 2026 dan berpotensi memicu transaksi penyesuaian dari dana yang menggunakan GDX maupun GDXJ sebagai acuan.

BRI Danareksa memperkirakan AMMN berpotensi menerima inflow sekitar USD43 juta, disusul BRMS sebesar USD37 juta dan ARCI sekitar USD3 juta. Di sisi lain, EMAS diperkirakan menghadapi outflow USD18 juta, sedangkan PSAB sekitar USD0,2 juta.

Tekanan terhadap EMAS terlihat jelas pada perdagangan pagi ini. Saham tersebut sempat berada di level Rp7.500, sementara AMMN justru menguat 1,03 persen ke Rp4.920 per unit setelah menyentuh Rp5.025.

Kenaikan AMMN terjadi ketika IHSG melemah tajam lebih dari 1 persen pada awal perdagangan, melanjutkan tren penurunan selama empat hari beruntun.

Penguatan AMMN kemudian terpangkas dari level tertinggi harian seiring aksi ambil untung di tengah tekanan pasar secara luas.

BRMS juga masih menguat 3,70 persen ke Rp700 per unit. Namun, penguatan saham tersebut turut tertahan oleh pelemahan IHSG.

Sementara itu, ARCI turun 1,52 persen ke Rp1.295 per unit dan PSAB melemah 0,86 persen ke Rp570 per unit. 

Dengan demikian, meski tidak terdapat perubahan konstituen saham Indonesia dalam evaluasi GDX dan GDXJ kali ini, pergeseran faktor free float tetap membawa konsekuensi terhadap arus dana pasif.

Kenaikan bobot AMMN dan BRMS membuka potensi tambahan permintaan dari dana pasif, sementara penurunan bobot EMAS menjadi katalis bagi potensi tekanan jual menjelang tanggal efektif rebalancing.

Evaluasi konstituen GDX berikutnya dijadwalkan diumumkan pada 11 Desember 2026 dan berlaku efektif pada 18 Desember 2026. Sementara itu, peninjauan GDXJ selanjutnya diperkirakan diumumkan sekitar Maret 2027. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement