IDXChannel - Saham-saham emiten produsen kabel kompak menghijau pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Saham PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) memimpin penguatan hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per pukul 15.18 WIB, saham CCSI melonjak 24,86 persen ke level Rp442 per unit.
Penguatan ini menandai hari kelima berturut-turut saham CCSI ditutup di zona hijau, dengan akumulasi kenaikan mencapai 52,41 persen dalam sepekan terakhir.
Penguatan serupa turut dialami emiten kabel lainnya. Saham PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO) naik 16,73 persen ke Rp3.000 per unit, PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) menguat 14,71 persen ke Rp975 per unit, dan PT Voksel Electric Tbk (VOKS) melesat 22,31 persen.
Sementara itu, PT KMI Wire and Cable Tbk (KBLI) naik 7,43 persen dan PT Kabelindo Murni Tbk (KBLM) bertambah 5,62 persen.
Penguatan sektor kabel ini terjadi di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan. Pada perdagangan hari yang sama, IHSG tercatat merosot 0,90 persen ke level 6.475.
Di tengah lonjakan tersebut, CCSI tercatat tengah bersiap melaksanakan rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD).
Volatilitas transaksi saham CCSI turut mendapat sorotan otoritas bursa. Melalui surat bernomor S-11907/BEI.PP1/09-2026, BEI meminta perseroan menjelaskan pergerakan harga sahamnya.
Dalam surat balasan yang disampaikan Senin (14/9/2026), Corporate Secretary CCSI Giovano Matindas Sumakul menyatakan perseroan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat memengaruhi nilai maupun harga efek perseroan atau keputusan investasi pemodal, baik sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 31/POJK.04/2015 maupun ketentuan III.2.1 Peraturan BEI Nomor I-E (Kep-00087/BEI/12-2025).
Perseroan juga menyatakan tidak mengetahui adanya aktivitas kepemilikan maupun penjaminan saham dari pemegang saham tertentu sesuai POJK Nomor 4 Tahun 2024.
Soal agenda korporasi, CCSI menegaskan tidak memiliki rencana aksi korporasi yang berdampak pada pencatatan sahamnya dalam tiga bulan ke depan.
Namun, dalam surat yang sama, perseroan mengonfirmasi bahwa rencana rights issue yang telah disetujui pemegang saham pada RUPS sebelumnya kini tengah berada dalam tahap persiapan.
Giovano turut memastikan tidak ada informasi atau fakta material lain yang belum diungkapkan ke publik, serta tidak ada rencana perubahan kepemilikan saham dari pemegang saham utama maupun pengendali perseroan.
Dikaitkan dengan Tema Data Center
Di kalangan pelaku pasar, penguatan saham-saham kabel ini banyak dikaitkan dengan spekulasi seputar tema pembangunan pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (AI) yang menjadi salah satu sentimen dominan di pasar modal domestik sepanjang 2026.
Kapasitas terpasang data center di Indonesia tercatat sekitar 580 megawatt (MW) pada semester I/2026 dan diproyeksikan melonjak hingga 3,5 gigawatt (GW) pada 2030.
Dalam riset yang terbit pada 21 Agustus 2026, analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan menyebut pertumbuhan tersebut setara dengan compound annual growth rate (CAGR) 56,7 persen sepanjang 2026-2030.
Pertumbuhan didorong meningkatnya kebutuhan cloud computing dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan kapasitas komputasi berbasis GPU dalam jumlah besar.
Di sisi lain, Singapura mulai membatasi penambahan kapasitas data center melalui kebijakan DC-CFA, sementara Johor di Malaysia sebagai lokasi limpahan pertama menghadapi keterbatasan pasokan listrik.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi tujuan limpahan berikutnya di kawasan.
BRI Danareksa mencatat sebagian besar komitmen kapasitas terbesar masih berasal dari operator swasta dan asing.
Beberapa proyek utama antara lain DAMAC Digital dengan rencana kapasitas 163 MW, Princeton Digital 360 MW, ST Telemedia 322 MW, GDC 200 MW, DayOne 450 MW, EdgeConneX 200 MW, BW Digital 120 MW, serta Racks Central 95 MW.
Di sisi lain, sejumlah emiten lokal mulai menawarkan eksposur terhadap pertumbuhan bisnis data center, meski sebagian besar masih berada pada tahap awal pengembangan.
Analis menilai PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) menjadi emiten yang memiliki eksposur paling langsung terhadap ekspansi data center.
Dari sisi lini bisnis, kaitan CCSI dengan tema tersebut relatif lebih jelas dibanding emiten kabel lainnya.
Perseroan dikenal sebagai produsen kabel serat optik bawah laut (submarine fiber optic) pertama di Indonesia, produk yang berfungsi sebagai infrastruktur konektivitas utama bagi operator pusat data dan perusahaan telekomunikasi.
Sementara, SCCO, JECC, KBLI, KBLM, dan VOKS selama ini lebih dikenal sebagai produsen kabel listrik yang permintaannya terutama ditopang proyek kelistrikan dan infrastruktur.
Karenanya, keterkaitannya dengan ekspansi data center bersifat tidak langsung, yakni melalui potensi peningkatan kebutuhan pasokan listrik untuk mendukung operasional pusat data.
Pernyataan CCSI kepada BEI yang menyatakan tidak mengetahui adanya fakta material di baliknya turut mengindikasikan bahwa narasi data center yang beredar di pasar saat ini masih bersifat spekulatif, belum didukung keterbukaan informasi resmi dari emiten terkait. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.