sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Saham Konglomerasi Tekan IHSG, Mirae Asset Soroti Pembiayaan Akuisisi BYAN

Market news editor Shifa Nurhaliza Putri
14/10/2026 10:07 WIB
Pelemahan ini dipimpin oleh koreksi tajam sejumlah saham konglomerasi, seperti DSSA, BREN, TPIA, dan CUAN.
Saham Konglomerasi Tekan IHSG, Mirae Asset Soroti Pembiayaan Akuisisi BYAN. (Foto: Ilustrasi)
Saham Konglomerasi Tekan IHSG, Mirae Asset Soroti Pembiayaan Akuisisi BYAN. (Foto: Ilustrasi)

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Rabu (14/10/2026) dibuka menguat 0,24 persen ke level 5.940.

Semenit berjalan, IHSG melanjutkan penguatan 0,35 persen ke level 5.946, dengan 312 saham di zona hijau, 151 melemah, dan 500 lainnya stagnan. Transaksi awal menyentuh Rp310 miliar, dengan volume 2,4 miliar lembar saham.

Sebelumnya, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai tekanan di pasar saham domestik masih berlanjut setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 2,59 persen ke level 5.936 pada pergerakan kemarin, Selasa (14/10/2026). Pelemahan ini dipimpin oleh koreksi tajam sejumlah saham konglomerasi, seperti DSSA, BREN, TPIA, dan CUAN.

Meskipun indeks terkoreksi, investor asing justru mencatatkan net buy sebesar Rp81 miliar di pasar reguler.

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai sentimen pasar masih rapuh di tengah risiko konsentrasi indeks, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian terkait pengawasan pasar.

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Dow Jones menguat 0,4 persen, sedangkan S&P 500 turun 0,1 persen dan Nasdaq melemah 0,4 persen. Harga minyak Brent melonjak 1,8 persen ke USD106,65 per barel seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik. Sementara itu, harga emas terkoreksi 0,6 persen.

Indeks dolar AS (DXY) menguat ke sekitar 102,6, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terakhir berada di level 5,24 persen karena pasar obligasi AS libur. Dari dalam negeri, rupiah melemah ke sekitar Rp17.900 per dolar AS.

“Katalis utama yang perlu dicermati ke depannya adalah data inflasi Amerika Serikat pada Rabu dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan berikutnya. Dalam kondisi tersebut, pendekatan selektif terhadap saham tetap relevan dibandingkan mengambil eksposur secara luas terhadap indeks,” jelas Rully.

Selain kondisi pasar secara keseluruhan, investor juga perlu memperhatikan risiko fundamental dan struktur pembiayaan masing-masing emiten. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembiayaan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh kelompok usaha Jhonlin serta implikasinya terhadap risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menerangkan bahwa kemampuan pembayaran utang seharusnya menjadi dasar penilaian kredit, bukan semata-mata nilai aset yang dijaminkan.

“Setelah transaksi, PT Jhonlin Baratama memegang 30,25 persen saham BYAN. Pada periode tahun buku 2021–2025, BYAN rata-rata membagikan dividen sebesar USD960 juta per tahun, termasuk USD500 juta untuk tahun buku 2025,” ujar Nurkholis.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement