Berdasarkan porsi kepemilikan tersebut, bagian dividen Jhonlin secara historis berpotensi mencapai sekitar USD290 juta per tahun. Nilai tersebut setara dengan imbal hasil dividen sekitar 20 persen terhadap asumsi fasilitas pembiayaan sebesar Rp26,1 triliun atau sekitar USD1,45 miliar yang sepenuhnya dibiayai utang. Angka ini jauh di atas asumsi biaya pinjaman sebesar 8 persen.
“Dengan struktur cicilan selama 7-8 tahun, dividen rata-rata BYAN berpotensi menopang pelunasan pinjaman. Beban bunga tahunan sekitar USD116 juta dapat ditutup 2,5 kali oleh dividen rata-rata lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025. Sementara itu, cicilan tahunan sebesar USD252-USD279 juta dapat ditutup sekitar 1,04-1,15 kali sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun,” jelas Nurkholis.
Kemampuan pembayaran ini turut didukung oleh kinerja operasional BYAN. Pada semester I 2026, perusahaan membukukan laba bersih sebesar USD410 juta, tumbuh 17 persen secara tahunan, serta memiliki kas sebesar USD934 juta.
Meski demikian, Mirae Asset menilai bantalan pembayaran utang masih terbatas dan bergantung pada sejumlah asumsi yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali Jhonlin. Jika menggunakan rata-rata dividen BYAN periode 2023–2025 sebesar USD667 juta per tahun, rasio Debt Service Coverage Ratio (DSCR) diperkirakan turun menjadi 0,72-0,80 kali.
Dalam skenario tersebut, BYAN perlu membagikan dividen minimal sekitar USD830 juta per tahun agar DSCR berada di atas 1 kali.
“Risiko juga berasal dari kebijakan dividen BYAN. Jhonlin tidak menerima dividen tahun buku 2025 dan tidak memiliki kendali penuh atas keputusan pembagian dividen, mengingat keluarga Low masih memegang sekitar 32 persen saham BYAN. Selain itu, risiko terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), serta kondisi force majeure dapat menambah ketidakpastian terhadap arus kas dan kemampuan pembayaran utang,” ujar Nurkholis.
Struktur pembiayaan, seperti gadai saham BYAN, rekening penampungan dividen, dan cadangan pembayaran utang dapat membantu mengelola risiko. Namun, pembayaran tetap bergantung pada arus kas dan siklus batu bara.
Meski transaksi dinilai tidak seburuk yang dikhawatirkan, Mirae Asset tetap berpandangan bearish terhadap BMRI karena tantangan fundamental, termasuk LDR 94,4 persen, CAR bank-only 17,5 persen, serta kenaikan Cost of Credit (CoC) di tengah rasio Loan Loss Reserve (LLR) sekitar 2,4 persen, level terendah sepanjang sejarahnya.
Dengan demikian, investor perlu mencermati risiko pembagian dividen BYAN, struktur pembiayaan, dan fundamental BMRI di tengah volatilitas pasar saham.
(Shifa Nurhaliza Putri)