Pada Senin (2/3), dikutip dari Trading Economics, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan bahwa AS akan terus menyerang Iran hingga negara tersebut tidak lagi mampu menimbulkan ancaman, memberi sinyal konflik dapat berlangsung selama sebulan atau bahkan “jauh lebih lama”.
Sementara itu, Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup dan mengancam akan menargetkan kapal mana pun yang mencoba melintasi koridor energi vital tersebut.
Eskalasi konflik mendorong harga minyak melonjak tajam, memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi di AS.
Kondisi ini memicu aksi jual obligasi pemerintah AS (Treasuries) dan mengurangi ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).
Pasar kini melihat peluang pemangkasan suku bunga The Fed berikutnya kemungkinan terjadi sekitar September, lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.