IDXChannel – Ada sejumlah penyebab saham perbankan turun meski kinerjanya bagus. Seperti diketahui, beberapa saham perbankan terkoreksi harga sejak awal tahun. Adapun penurunan terdalam dialami oleh saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang merosot hingga 25,51% dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang harganya terkoreksi hingga 21,94% sejak awal tahun 2022.
Lantas, apa sebenarnya penyebab saham perbankan turun meski kinerja beberapa saham ini bagus? IDXChannel merangkum beberapa penyebabnya sebagai berikut.
Penyebab Saham Perbankan Turun
Beberapa saham dari sektor perbankan memang mengalami pelemahan harga sejak awal tahun 2022. Indeks LQ45 yang dijadikan acuan investasi menunjukkan pergerakan yang kurang menyenangkan. Sejak awal tahun atau secara year-to-date, indeks LQ45 terkoreksi 11,20%. Padahal, Indeks Harga Saham Gabungan menguat 1,95% sejak awal 2022.
Saham perbankan yang mengalami koreksi harga antara lain BBTN menurun 25,51%, BBNI terkoreksi 21,94%, BBCA menurun 11,96%, BBRI terkoreksi 10,31%, BMRI terkoreksi 10,28%. Kinerja keuangan BMRI, BBCA, dan BBTN yang meningkat sepanjang semester pertama 2021 rupanya belum mampu mengangkat harga sahamnya ke zona hijau.
Para analis pun menilai adanya beberapa penyebab dari penurunan saham perbankan tersebut. Menurut Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Okie Setya Ardiastama, pelemahan harga saham perbankan tidak terlepas dari sikap investor saat ini yang lebih berfokus pada pemulihan ekonomi dalam negeri, khususnya pada kuartal ketiga.
Selain itu, pergerakan saham perbankan big cap juga masih diwarnai oleh sentimen aksi korporasi dari masing-masing emiten. Inilah yang membuat para investor melakukan aksi wait and see terhadap beberapa saham big cap dari sektor perbankan.
Jika dilihat dari kinerja dan fundamentalnya, saham-saham perbankan big caps seperti BBNI, BBRI, BMRI, dan lainnya sebenarnya masih cukup baik. Pada dasarnya, saat ini investor lebih cenderung melihat momentum ketika ingin membeli saham.
Percepatan inflasi di Amerika Serikat juga mendorong penurunan harga sejumlah saham bank. Seperti diketahui, Amerika Serikat tengah menghadapi inflasi tertinggi dalam 40 tahun terakhir.
Dari beberapa saham perbankan big cap, hanya saham BBNI yang masih diperdagangkan di bawah nilai bukunya. Untuk saham lain seperti BBRI, BBCA, dan BMRI, harganya masih berada di atas nilai bukunya.
Menurut analis, penurunan harga saham perbankan ini bersifat sementara dan sudah diprediksi. Sebab, likuiditas di sistem perbankan Indonesia masih over likuiditas Rp1.400 triliun.
Oleh karena itu, merosotnya saham sejumlah bank, baik konvensional maupun digital dinilai menjadi momentum yang tepat untuk membeli saham-saham tersebut. Menurut Associate Director PT Fokus Finansial Janson Nasrial, adanya koreksi saham sektor perbankan membuat investor dapat melakukan buy on weaknesses.
Itulah beberapa penyebab saham perbankan turun yang bisa Anda jadikan referensi dalam berinvestasi saham sektor perbankan.