sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Suntikan Modal Danantara Topang Perbaikan Kinerja Garuda (GIAA) di Semester I-2026

Market news editor Febrina Ratna Iskana
01/10/2026 08:00 WIB
Garuda Indonesia (GIAA) mencatatkan perbaikan kinerja sepanjang paruh pertama tahun ini. Hal itu tak lepas dari suntikan modal Danantara Asset Management.
Suntikan Modal Danantara Topang Perbaikan Kinerja Garuda (GIAA) di Semester I-2026. (Foto: iNews Media Group)
Suntikan Modal Danantara Topang Perbaikan Kinerja Garuda (GIAA) di Semester I-2026. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan perbaikan kinerja sepanjang paruh pertama tahun ini. Hal itu tak lepas dari suntikan modal Danantara Asset Management pada akhir 2025.

Berdasarkan keterbukaan informasi pada Rabu (30/9/2026), Garuda Indonesia menyebut salah satu penopang perbaikan kinerja yaitu beban keuangan yang turun 11,6 persen menjadi USD222,4 juta dari USD251,6 juta. Beban bunga dari liabilitas sewa, obligasi, hingga utang usaha seluruhnya lebih rendah dibanding tahun lalu.

Penurunan ini tak lepas dari suntikan modal Danantara Asset Management senilai Rp23,67 triliun pada Desember 2025. Tak lama setelah dana itu masuk, anak usaha Citilink melunasi pokok utang restrukturisasi kepada Pertamina pada 10 Desember 2025.

Hasilnya, beban keuangan grup kepada Pertamina turun menjadi USD4,7 juta dari USD11,8 juta setahun sebelumnya. Beban bunga utang usaha secara keseluruhan juga turun lebih dari separuh menjadi USD6,6 juta.

Selain itu, Garuda mampu mengaktifkan kembali puluhan pesawat grounded dan membayar utang perseroan. Banyaknya jumlah pesawat Garuda yang parkir menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.

Presiden bahkan sempat menyinggung hal tersebut dalam pidato Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Jumat (14/8/2026). Menurut Presiden, Garuda yang hampir dipailitkan dan memiliki puluhan pesawat grounded yang tak bisa diperbaiki kini berhasil mengaktifkan kembali pesawat-pesawat tersebut.

Hingga Juni 2026, jumlah pesawat yang kembali beroperasi mencapai 104 unit. "Garuda Indonesia yang sudah sekian tahun rugi, sekarang sudah ada harapan untuk kembali untung," ujar Prabowo kala itu.

Berdasarkan laporan keuangan sepanjang semester I-2026, GIAA membayar USD232,1 juta untuk aset pemeliharaan pesawat, terutama perawatan mesin. Nilai ini lebih dari tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, utang perseroan berkurang. Total pinjaman GIAA, termasuk liabilitas sewa, obligasi, dan pinjaman bank, turun 4 persen menjadi USD3,76 miliar per 30 Juni 2026 dari USD3,92 miliar pada akhir 2025.

Liabilitas sewa turun dari USD2,49 miliar menjadi USD2,34 miliar setelah perseroan membayar pokok sewa USD158,9 juta sepanjang semester I-2026. Arus kas operasional tercatat positif USD253,1 juta, dan kas serta setara kas per akhir Juni 2026 sebesar USD624,3 juta.

Ekuitas GIAA Menyempit

Dalam laporan keuangan ini, GIAA juga melakukan penyesuaian angka pembanding tahun 2025 (penyajian kembali). Penyesuaian terutama terkait pengukuran estimasi biaya perawatan dan pengembalian pesawat sewa, yang disesuaikan dengan ketentuan kontrak sewa. Penyesuaian ini bersifat nonkas.

Per 30 Juni 2025, defisiensi modal perseroan masih USD1,50 miliar. Setelah suntikan modal Danantara, defisiensi modal per 30 Juni 2026 menyempit menjadi USD52,2 juta.

Posisi ini memang berbalik dari ekuitas positif pada akhir 2025, seiring rugi yang masih dibukukan pada semester berjalan.

Dari sisi pemegang saham, Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) Dony Oskaria pada akhir Maret lalu menyebut tekanan kinerja Garuda sepanjang 2025 merupakan kondisi sebelum intervensi berjalan.

Salah satu penyebabnya adalah banyaknya pesawat grounded yang tetap menimbulkan beban sewa. Menurut Dony, dampak intervensi tersebut akan terlihat pada tahun berjalan di 2026.

"Tidak cukup hanya dengan memberikan pendanaan, tetapi juga harus diikuti transformasi bisnis," ujar Dony.

GIAA mengantongi pendapatan USD1,80 miliar sepanjang Januari–Juni 2026. Angka itu naik 16 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari USD1,55 miliar pada semester I-2025.

Sementara itu, rugi bersih GIAA menyusut 23,2 persen menjadi USD113,0 juta dari USD147,1 juta pada semester I-2025. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement