IDXChannel - PT Solusi Sinergi Digital Tbk atau Surge atau WIFI membukukan pendapatan sebesar Rp1,57 triliun pada semester I-2026. Angka tersebut melonjak 206 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp513,4 miliar, seiring peralihan perseroan dari tahap pembangunan infrastruktur digital menuju monetisasi aset.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, Surge mencatatkan EBITDA sebesar Rp948,9 miliar atau tumbuh 117 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, laba bersih konsolidasian mencapai Rp496,8 miliar, meningkat 118 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp331,2 miliar atau naik 45 persen.
Pertumbuhan kinerja terutama didorong oleh segmen telekomunikasi yang mencatatkan pendapatan Rp1,28 triliun, melonjak 357 persen secara tahunan. Segmen tersebut kini menjadi kontributor terbesar dengan porsi 82 persen terhadap total pendapatan Perseroan.
Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk Shannedy Ong mengatakan semester I-2026 menjadi titik balik bagi Surge setelah beberapa tahun fokus membangun infrastruktur digital.
"Selama beberapa tahun terakhir kami membangun infrastruktur, kini fokus kami adalah memastikan setiap kilometer serat optik dan setiap sektor radio yang telah kami bangun menghasilkan pendapatan berulang," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/7/2026).
Pertumbuhan bisnis telekomunikasi ditopang oleh basis pelanggan HomeConnect Fiber-to-the-Home (FTTH) yang mencapai 1,85 juta pelanggan serta layanan HomeConnect Fixed Wireless Access (FWA) sebanyak 513.040 pelanggan per 30 Juni 2026.
Pada kuartal II-2026, pendapatan segmen telekomunikasi tumbuh 17 persen secara kuartalan. Sementara itu, laba bersih kuartal II-2026 tercatat sebesar Rp255,6 miliar, meningkat 6 persen dibandingkan kuartal I-2026 sebesar Rp241,2 miliar.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA tetap terjaga di atas 60 persen dengan margin EBITDA sebesar 60,4 persen. Perseroan menyebut penurunan margin dibandingkan 85,2 persen pada semester I-2025 merupakan dampak perubahan bauran bisnis, seiring meningkatnya kontribusi layanan telekomunikasi ritel yang memiliki karakter pendapatan berulang.
"Mempertahankan margin EBITDA di atas 60 persen pada fase ekspansi paling intensif dalam sejarah Perseroan mencerminkan disiplin belanja modal dan pengendalian biaya kami," kata Shannedy.
Dari sisi neraca, Surge mencatatkan belanja modal sebesar Rp1,18 triliun pada semester I-2026 untuk melanjutkan ekspansi jaringan. Perseroan juga memiliki kas dan setara kas sebesar Rp8,29 triliun per 30 Juni 2026 setelah penerbitan obligasi dan sukuk pada semester ini.
Sementara itu, posisi utang bersih tercatat sebesar Rp1,77 triliun atau sekitar 0,9 kali EBITDA yang disetahunkan. Perseroan akan melanjutkan strategi peningkatan utilisasi jaringan, mendorong migrasi pelanggan ke paket berkecepatan lebih tinggi, serta meningkatkan efisiensi operasional layanan FWA pada semester II-2026.
(Rahmat Fiansyah)