Selain faktor geopolitik, Ibrahim menilai kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga berpotensi menambah tekanan pasar. Rencana maupun penerapan tarif impor baru terhadap sejumlah mitra dagang dinilai dapat meningkatkan ketegangan dagang global dan memicu volatilitas pasar keuangan
Tak hanya itu, kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi perhatian pasar. Jika harga energi terus melonjak, tekanan inflasi global bisa meningkat dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini akan memperkuat posisi dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah.
Meski demikian, pergerakan rupiah tetap sangat bergantung pada respons Bank Indonesia serta perkembangan situasi global dalam beberapa hari ke depan.
Intervensi di pasar valas dan stabilitas domestik akan menjadi penopang penting agar pelemahan rupiah tidak berlangsung lebih dalam.
(DESI ANGRIANI)