Di lain pihak, lonjakan kapasitas produksi dan aset ini juga sekaligus menuntut kesiapan infrastruktur distribusi darat yang mumpuni, di mana distribusi bahan kimia dan energi memerlukan perizinan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) serta armada isotank berspesifikasi tinggi.
Kebutuhan infrastruktur dan lisensi tersebut diyakini membutuhkan lama, sehingga opsi sinergi dan kolaborasi dengan entitas bisnis lain dinilai sebagai opsi dari strategi ekspansi yang paling realistis dan efisien.
Meski pihak TPIA belum menyampaikan pernyataan resmi, kalangan pelaku pasar mulai berspekulasi bahwa beberapa emiten yang bergerak di bisnis handling bahan kimia B3 masuk dalam daftar calon rekanan strategis, termasuk di antaranya PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU), yang diketahui juga baru saja merampungkan aksi private placement guna mengonversi utang senilai Rp61,35 miliar.
(taufan sukma)