Kerugian tersebut menyusul laporan dari Citrini Research mengenai skenario hipotetis yang mengerikan untuk tahun mendatang, di mana AI akan memicu gelombang pengangguran massal di kalangan pekerja kerah putih, mengurangi pengeluaran konsumen, mendorong gagal bayar pinjaman, dan pada akhirnya menyebabkan kontraksi ekonomi.
"Reaksi pasar adalah bagian dari gejolak harian yang dialami investor sepanjang tahun. S&P 500 turun 2,8 persen pada pertengahan Januari diikuti oleh kenaikan 3,1 persen, kemudian penurunan 3,2 persen pada akhir Januari hingga awal Februari dan kemudian kenaikan 3,1 persen, dan akhirnya kita kembali pulih hari ini dari penurunan 3,1 persen lainnya pada pertengahan Februari. Tetapi sejauh ini kita hanya naik 1,7 persen dari titik terendah baru-baru ini," kata Mark Luschini, Kepala Strategi Investasi di Janney Montgomery Scott, kepada Investing.com.
Di sisi lain, pasar terus khawatir tentang masa depan perdagangan global usai tarif perdagangan global baru Trump mulai berlaku 10 persen pada tengah malam setelah putusan Mahkamah Agung yang membatalkan tarif timbal balik Trump.
Adapun tingkat 10 persen dikomunikasikan melalui layanan pesan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, dan lebih rendah dari tarif 15 persen yang digembar-gemborkan Trump selama akhir pekan. Namun, Gedung Putih sedang berupaya mengeluarkan perintah resmi untuk menaikkan tarif menjadi 15 persen, lapor Bloomberg News.
Mengingat prospek yang belum jelas untuk agenda perdagangan Trump, ketidakpastian disinyalir masih menyelimuti perdagangan ke depan.