IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026), di tengah perhatian investor terhadap ketegangan dengan Iran, data inflasi AS, serta laporan kinerja Nvidia yang akan dirilis pekan ini.
Dikutip dari Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 15,1 poin atau 0,03 persen menjadi 53.261,95 pada pembukaan. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 11 poin atau 0,14 persen ke level 7.663,38.
Indeks Nasdaq Composite juga terkoreksi 115,1 poin atau 0,44 persen menjadi 26.065,32. Pelemahan terjadi ketika investor menimbang berbagai katalis yang berpotensi memengaruhi arah pasar saham AS dalam beberapa hari ke depan.
Salah satu perhatian utama pasar adalah perkembangan ketegangan antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menggambarkan langkah ekonomi terhadap Iran sebagai "Economic D-Day", yang meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi dampaknya terhadap perekonomian dan pasar global, katanya.
Selain isu geopolitik, investor juga menantikan laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan terbit pekan ini. Kinerja perusahaan teknologi tersebut menjadi perhatian karena tingginya ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan industri kecerdasan artifisial (AI).
Data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini juga menjadi fokus investor. Data tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama terkait prospek suku bunga ke depan.
Pergerakan Wall Street pada awal pekan ini terjadi setelah indeks-indeks utama AS mencatat penguatan dalam beberapa periode sebelumnya. Investor kini menilai apakah reli saham, khususnya saham teknologi dan AI, masih memiliki ruang untuk berlanjut.
Selain Nvidia, pasar juga mencermati perkembangan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kondisi geopolitik yang dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko. Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dalam menentukan posisi.
Dengan sejumlah katalis penting yang akan muncul pekan ini, arah Wall Street berpotensi mengalami volatilitas lebih tinggi. Investor akan mencermati kombinasi antara data ekonomi, kebijakan AS, perkembangan Iran, dan kinerja perusahaan teknologi besar untuk menentukan arah pasar selanjutnya.
(Rahmat Fiansyah)