IDXChannel - Indeks utama Wall Street melemah pada Jumat (20/3/2026) seiring perang Iran dengan AS-Israel memasuki pekan keempat. Konflik geopolitik yang mengguncang pasar energi ini mendorong investor menilai ulang ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 110,31 poin atau 0,24 persen menjadi 45.911,12, sementara S&P 500 melemah 46,58 poin atau 0,71 persen menjadi 6.559,91, dan Nasdaq Composite turun 259,01 poin atau 1,17 persen menjadi 21.831,68.
Konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah Iran menyerang kilang minyak di Kuwait. Selain itu, sebuah laporan menyebut pemerintahan Donald Trump tengah merencanakan pendudukan atau blokade Pulau Kharg milik Iran untuk menekan Teheran agar kembali membuka Selat Hormuz.
Investor juga mencermati upaya sejumlah negara besar untuk mengembalikan keseimbangan pasokan energi global. Harga minyak Brent berfluktuasi sepanjang hari dan terakhir diperdagangkan di sekitar USD108 per barel.
Sentimen positif datang dari FedEx, yang sering dianggap sebagai indikator aktivitas bisnis global. Perusahaan itu mengeluarkan proyeksi optimistis dan menyatakan permintaan global tetap stabil meski ada ketegangan geopolitik, sehingga sahamnya naik 3,4 persen. Pesaingnya, United Parcel Service, juga menguat 0,6 persen.
Meski demikian, investor masih menilai dampak kenaikan harga minyak terhadap laba perusahaan, terutama menjelang akhir kuartal pertama.
“Semakin lama situasi ini berlangsung, perusahaan akan mulai melaporkan dalam laporan laba bahwa mereka menghadapi tekanan harga, dan itu bisa terjadi di seluruh rantai pasokan,” kata co-head of equity trading di Themis Trading, Joe Saluzzi.
Serangkaian keputusan bank sentral pekan ini, termasuk dari Federal Reserve, juga menunjukkan bahwa konflik tersebut memperumit proses pengambilan kebijakan moneter. Gubernur The Fed Christopher Waller berencana mengajukan perbedaan pendapat untuk mendukung pemangkasan suku bunga pada pertemuan bank sentral menyusul data pekerjaan yang tak terduga, hingga lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi.
Meski pembuat kebijakan di AS masih memperkirakan setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, pasar menjadi kurang yakin. Berdasarkan data yang dihimpun LSEG, para trader kini memperkirakan pemangkasan suku bunga baru akan terjadi pada 2027, mundur dari perkiraan sebelumnya yang menyebut pada Desember 2026.
Pada pukul 09.58 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 110,31 poin (0,24%) menjadi 45.911,12, sementara S&P 500 melemah 46,58 poin (0,71%) menjadi 6.559,91, dan Nasdaq Composite turun 259,01 poin (1,17%) menjadi 21.831,68.
Indeks volatilitas Wall Street, CBOE Volatility Index (VIX), yang dikenal sebagai indicator ketakutan pasar, melonjak 1,25 poin menjadi 25,31.
(NIA DEVIYANA)