sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Dibuka Melemah, Konflik Timur Tengah Turunkan Ekspektasi Suku Bunga

Market news editor Nia Deviyana
20/03/2026 22:00 WIB
Konflik geopolitik yang mengguncang pasar energi ini mendorong investor menilai ulang ekspektasi penurunan suku bunga  Federal Reserve (The Fed).
Wall Street Dibuka Melemah, Konflik Timur Tengah Turunkan Ekspektasi Suku Bunga. Foto: AP.
Wall Street Dibuka Melemah, Konflik Timur Tengah Turunkan Ekspektasi Suku Bunga. Foto: AP.

IDXChannel - Indeks utama Wall Street melemah pada Jumat (20/3/2026) seiring perang Iran dengan AS-Israel memasuki pekan keempat. Konflik geopolitik yang mengguncang pasar energi ini mendorong investor menilai ulang ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 110,31 poin atau 0,24 persen menjadi 45.911,12, sementara S&P 500 melemah 46,58 poin atau 0,71 persen menjadi 6.559,91, dan Nasdaq Composite turun 259,01 poin atau 1,17 persen menjadi 21.831,68.

Konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda setelah Iran menyerang kilang minyak di Kuwait. Selain itu, sebuah laporan menyebut pemerintahan Donald Trump tengah merencanakan pendudukan atau blokade Pulau Kharg milik Iran untuk menekan Teheran agar kembali membuka Selat Hormuz.

Investor juga mencermati upaya sejumlah negara besar untuk mengembalikan keseimbangan pasokan energi global. Harga minyak Brent berfluktuasi sepanjang hari dan terakhir diperdagangkan di sekitar USD108 per barel.

Sentimen positif datang dari FedEx, yang sering dianggap sebagai indikator aktivitas bisnis global. Perusahaan itu mengeluarkan proyeksi optimistis dan menyatakan permintaan global tetap stabil meski ada ketegangan geopolitik, sehingga sahamnya naik 3,4 persen. Pesaingnya, United Parcel Service, juga menguat 0,6 persen.

Meski demikian, investor masih menilai dampak kenaikan harga minyak terhadap laba perusahaan, terutama menjelang akhir kuartal pertama.

“Semakin lama situasi ini berlangsung, perusahaan akan mulai melaporkan dalam laporan laba bahwa mereka menghadapi tekanan harga, dan itu bisa terjadi di seluruh rantai pasokan,” kata co-head of equity trading di Themis Trading, Joe Saluzzi.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement