sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

The Fed Putuskan Tahan Suku Bunga, Perdebatan Internal Makin Sengit

Market news editor Nia Deviyana
30/04/2026 06:10 WIB
The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen di tengah tekanan pada pasar tenaga kerja dan inflasi serta dampak perang AS-Iran.
The Fed Putuskan Tahan Suku Bunga, Perdebatan Internal Makin Sengit. Foto: AP.
The Fed Putuskan Tahan Suku Bunga, Perdebatan Internal Makin Sengit. Foto: AP.

IDXChannel - Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen di tengah tekanan pada pasar tenaga kerja dan inflasi, serta dampak perang AS-Iran dan aksi balasan yang membebani ekonomi global.

The Fed mengumumkan keputusan tersebut pada Rabu (29/4/2026), sesuai ekspektasi para ekonom.

CME FedWatch, yang melacak kemungkinan berbagai keputusan kebijakan moneter, menunjukkan ekspektasi 100 persen bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga.

Sebanyak delapan pejabat memilih untuk mempertahankan suku bunga. Namun, tiga pejabat berbeda pendapat dengan tidak ingin mencantumkan sinyal pemangkasan suku bunga di masa depan, sementara satu pejabat lainnya, Stephen Miran, yang merupakan orang pilihan Presiden AS Donald Trump, justru mendorong pemangkasan suku bunga segera, menandai jumlah perbedaan pendapat terbanyak sejak Oktober 1992.

“Tiga anggota menolak memasukkan bias pelonggaran, yang menunjukkan adanya perpecahan lebih lanjut di bank sentral ke depan,” kata peneliti senior di Center for a New American Security, Rachel Ziemba, dilansir Al Jazeera.

Tekanan inflasi yang membayangi pasar minyak serta pasar tenaga kerja yang stagnan memengaruhi pengambilan keputusan bank sentral.

“Perkembangan di Timur Tengah berkontribusi pada tingkat ketidakpastian yang tinggi terhadap prospek ekonomi,” kata The Fed dalam pernyataannya.

Inflasi masih tinggi, sebagian mencerminkan kenaikan terbaru harga energi global.

Pada Rabu, harga minyak mentah AS naik 7,31 persen menjadi USD107,24 per barel, sementara Brent naik 7,26 persen menjadi USD119,34 setelah menyentuh level tertinggi sejak 2022.

“The Fed tetap menahan suku bunga seperti yang diperkirakan dan memberi sinyal pemangkasan lebih lanjut akan sulit dilakukan di tengah kenaikan harga,” kata Ziemba.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement