Ketidakpastian juga dipicu oleh pola kebijakan Trump yang kerap menetapkan tenggat atas Iran untuk membuka Selat Hormuz, namun kemudian menundanya. Kondisi ini mengingatkan pasar pada kebijakan tarif impor sebelumnya yang juga mengalami penundaan sebelum akhirnya dinegosiasikan ulang.
Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer mengatakan sentimen pasar saat ini masih berhati-hati. “Suasana pasar masih cenderung optimisme yang hati-hati, bukan euforia penuh. Gencatan senjata hanya berlangsung dua minggu dan pasar akan mencermati apakah jalur pengiriman di Selat Hormuz benar-benar pulih serta apakah kesepakatan ini bisa mengarah pada perdamaian yang lebih permanen,” katanya.
Harga minyak mentah acuan AS anjlok 17,5 persen menjadi USD93,15 per barel, sementara Brent turun 16,6 persen ke USD91,11 setelah sebelumnya sempat menembus USD119 saat kekhawatiran konflik memuncak.
Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 6,9 persen, Nikkei 225 Jepang naik 5,4 persen, dan Hang Seng Hong Kong menguat 3,1 persen. Sementara di Eropa, indeks DAX Jerman naik 5,2 persen dan CAC 40 Prancis menguat 4,9 persen.
Di Wall Street, saham-saham dengan terbebani harga minyak bergerak menguat. United Airlines melonjak 13,7 persen, sementara Delta Air Lines naik 11 persen setelah mencatatkan laba kuartalan di atas ekspektasi. Saham Norwegian Cruise Line juga naik 11,9 persen.