“Inflasi masih tinggi dan cenderung bertahan. Jika harga energi terus naik, The Fed kemungkinan akan menahan suku bunga lebih lama,” katanya dikutip dari Reuters.
The Fed juga diperkirakan tidak akan mengubah suku bunga pada pertemuan pekan depan. Lonjakan harga energi bakal mempersulit rencana kebijakan bank sentral, terlebih ketika sejumlah indikator lain menunjukkan tekanan harga masih tinggi dan pasar tenaga kerja mulai melunak.
Sementara itu, survei awal University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS pada Maret turun menjadi 55,5 dari 56,6 pada akhir Februari.
Di sisi lain, harga minyak mentah bertahan di dekat level USD100 per barel karena konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda meskipun pemerintahan Donald Trump menyatakan konflik tersebut dapat segera diselesaikan.
Upaya meredam lonjakan harga energi melalui pelepasan cadangan minyak darurat oleh International Energy Agency (IEA) serta lisensi sementara selama 30 hari dari AS bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang tertahan di laut sejauh ini belum berhasil menurunkan harga.