sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Wall Street Kembali Hijau Seiring Meredanya Lonjakan Imbal Hasil Treasury

Market news editor Dhera Arizona Pratiwi
02/10/2026 06:20 WIB
Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, pulih dari penurunan awal dan ditutup sedikit lebih tinggi pada perdagangan Kamis (1/10/2026).
Wall Street Kembali Hijau Seiring Meredanya Lonjakan Imbal Hasil Treasury. (Foto Istimewa)
Wall Street Kembali Hijau Seiring Meredanya Lonjakan Imbal Hasil Treasury. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, pulih dari penurunan awal dan ditutup sedikit lebih tinggi pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Indeks S&P 500 bangkit dari level terendah dua minggu setelah aksi jual obligasi global berbalik arah, menyusul lonjakan imbal hasil Treasury AS ke level tertinggi dalam beberapa dekade.

Saham sempat tertekan pada awal perdagangan karena data ekonomi terus menunjukkan kondisi ekonomi yang kuat, namun disertai tekanan harga yang persisten. Hal ini memicu kekhawatiran inflasi pada akhirnya dapat memaksa Federal Reserve (The Fed) untuk bersikap lebih agresif dalam menaikkan suku bunga.

Dilansir dari Reuters, Jumat (2/10/2026), Dow Jones Industrial Average naik 20,69 poin atau 0,04 persen menjadi 50.926,74, kemudian S&P 500 menguat 14,94 poin atau 0,20 persen ke level 7.666,48, dan Nasdaq Composite menanjak 10,53 poin atau 0,04 persen menjadi 26.871,60.

Imbal hasil Treasury sempat melanjutkan kenaikan dengan obligasi acuan tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam 24 tahun setelah menutup September dengan kenaikan kuartalan terbesar sejak 1994 dan menekan harga saham.

Tekanan ini terjadi setelah Institute for Supply Management (ISM) melaporkan penurunan PMI manufaktur menjadi 54,5 bulan lalu dari 54,6 pada bulan Agustus, serta menunjukkan lonjakan harga input yang memicu kekhawatiran inflasi.

Imbal Hasil Treasury Berbalik Arah

Namun, imbal hasil kemudian turun saat pembeli mulai masuk ke pasar. Penurunan berlanjut setelah Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson mengisyaratkan bank sentral mungkin akan bersikap sabar sebelum kembali menaikkan suku bunga, menyusul kenaikan sebesar 25 basis poin pada September.

Imbal hasil Treasury AS tenor dua tahun turun sekitar 10 basis poin dan mencatatkan penurunan harian terbesar sejak Agustus 2025.

"Meskipun valuasi telah turun, pasar masih belum bisa dikatakan murah, jadi saya tidak bersikap pesimistis (bearish) terhadap pasar saham. Pasar bisa terus melaju, namun saya memperkirakan volatilitas yang lebih tinggi baik di pasar saham maupun obligasi," ujar Chief Investment Officer Certuity, Scott Welch.

"Situasi pasar saat ini; kondisinya hanya sedikit berbeda dari situasi yang biasa dihadapi pelaku pasar selama beberapa tahun terakhir, dan hal ini memerlukan penyesuaian," katanya.

Sektor Energi Pimpin Kenaikan

Harga minyak juga terus memicu kekhawatiran akan inflasi. Harga minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari USD4 per barel setelah China menangguhkan ekspor bahan bakar, yang berpotensi memperketat kondisi pasar lebih lanjut.

Lonjakan harga minyak mentah turut mendorong indeks energi S&P 500 naik 1,9 persen, menjadikannya sektor dengan kinerja terbaik di antara 11 sektor utama S&P. Harga minyak mentah Brent ditutup naik lebih dari USD4 per barel setelah China menangguhkan ekspor bahan bakar, yang berpotensi memperketat kondisi pasar lebih lanjut.

Lonjakan harga minyak mentah turut mendorong indeks energi S&P 500 naik 1,9 persen, menjadikannya sektor dengan kinerja terbaik di antara 11 sektor utama S&P.

Sektor teknologi juga menunjukkan penguatan dengan kenaikan 0,8 persen, di mana saham perangkat lunak melonjak 1 persen menyusul laporan kinerja Accenture. Saham perusahaan konsultan TI tersebut melesat dan ditutup pada level tertinggi sejak 6 Maret setelah perusahaan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan setahun penuh yang melampaui perkiraan.

Micron Technology ditutup naik 3 persen karena proyeksi pendapatan yang lebih baik dari perkiraan serta komitmen pelanggan senilai USD32 miliar dalam perjanjian pasokan memperkuat keyakinan pasar terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).

Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan pada Rabu semakin meredam ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan Oktober. Menurut data CME Fedwatch, pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 28,2 persen saja untuk kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin, turun dari 68,6 persen pada pekan sebelumnya.

Jumlah saham yang mengalami kenaikan melampaui jumlah saham yang turun dengan rasio 1,234 banding 1 di bursa NYSE dan rasio 1,04 banding 1 di bursa Nasdaq.

Indeks S&P 500 mencatat empat level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 41 level terendah baru, sementara indeks Nasdaq Composite mencatat 41 level tertinggi baru dan 287 level terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS tercatat sebesar 17,25 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 17,19 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement