Dalam proses pembangunannya, lanjut dia, Waskita Karya sebagai kontraktor akan menerapkan sejumlah inovasi agar pekerjaan lebih efisien, baik dari sisi waktu maupun biaya. Di antaranya menggunakan metode Curing Automatic, manfaatnya untuk menjaga beton supaya tidak cepat kehilangan air pada masa perawatan selama tujuh hari, sehingga tidak terjadi retak susut.
Ada pula alat Deflection Warning System yang berfungsi memonitor penurunan bekisting dan shoring pada saat pengecoran. Dengan begitu, tidak lagi pengecekan manual yang dilakukan pengawas atau surveyor.
Salah satu tantangan dalam proyek ini yaitu pekerjaan konstruksi berada di zona lalu lintas aktif, sehingga berpotensi mengganggu kelancaran arus kendaraan serta meningkatkan risiko keselamatan pengguna jalan. Solusinya, Waskita mengoptimalisasi manajemen trafik dan keselamatan area konstruksi melalui implementasi Traffic Management Plan (TMP) serta penyediaan Jalur Detour dan Pengamanan Area Kerja.
Pada pengerjaan Jalan Tol Yogyakarta-Bawen Seksi 3 ini, perseroan berencana menggunakan roboflagman untuk melakukan pengaturan lalu lintas secara otomatis. Inovasi itu bertujuan mengurangi risiko kecelakaan dan dapat tetap mengatur dalam segala kondisi cuaca.
Sebagai informasi, total panjang Jalan Tol Yogyakarta-Bawen sepanjang 75,12 km yang menghubungkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Jalan ini dirancang untuk memangkas waktu tempuh perjalanan darat Yogyakarta-Semarang yang biasanya memakan waktu 3-4 jam menjadi hanya sekitar 1 jam.
(Rahmat Fiansyah)