IDXChannel—Ibu Kota China, Beijing, diperkirakan menua secara signifikan pada 2035. Sekitar sepertiga populasi penduduk kota tersebut akan menginjak usia 60 ke atas pada periode tersebut.
Melansir Reuters (19/10/2026), pemerintah China menjadikan perencanaan populasi sebagai kunci dalam rancangan strategi perekonomiannya. Tahun ini, China diperkirakan telah menggelontorkan anggaran sekitar 180 miliar yuan untuk memacu angka kelahiran.
Sebagai tambahan informasi, populasi penduduk China mulai mengalami penyusutan sejak 2022 dan mulai menua dengan sangat cepat.
Hal ini membuat pemerintah China kesulitan dalam meningkatkan angka konsumsi domestik dan mengendalikan utang, mengingat ratusan juta penduduknya akan meninggalkan lingkungan kerja ketika anggaran pensiun sudah berada dalam tekanan.
Ekonom setempat mengatakan bahwa sedikitnya anak pada keluarga-keluarga inti di China sama artinya dengan konsumsi rumah tangga yang semakin sedikit dan pertumbuhan konsumsi yang semakin lambat.
Hingga akhir 2025, Kota Beijing memiliki 5,29 juta penduduk tetap berusia 60 ke atas. Jumlah ini hampir mencapai seperempat dari total populasi penduduknya. Sehingga pada 2035 nanti, angka itu akan bertambah, satu dari tiga penduduk di Beijing akan berusia di atas 60 tahun.
Penurunan Populasi Penduduk 20-29 Tahun, Anak Muda Cari Peluang ke Luar Kota/Negeri
Sementara itu, populasi penduduk usia muda di Beijing justru menurun hingga mengubah profil usia pada demografi penduduknya. Padahal, dulu Beijing pernah mencatatkan populasi anak muda yang lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi lain di China.
Publikasi dari Economic Observer mencatat, pada 2015 penduduk Beijing yang berusia 20-29 tahun mencapai 21,3 persen dari total populasi. Namun, pada 2024, jumlah penduduk usia muda di kota itu menurun menjadi 11,4 persen saja dari total populasi.
Pada 2015, populasi muda di Beijing berjumlah 4,62 juta orang. Jumlah itu turun menjadi 2,49 juta pada 2024. Artinya, dalam satu dekade, populasi penduduk Beijing yang berusia 20-29 tahun telah berkurang sebesar 46 persen.
Secara bersamaan, jumlah populasi lanjut usia justru meningkat; penduduk berusia 60 tahun ke atas naik dari 3,41 juta pada 2015, menjadi 5,14 juta pada 2024. National University of Singapore’s East Asian Institute (EAI) mengatakan penurunan penduduk usia muda di Beijing pun bukanlah kasus spesifik.
Sebab, penurunan populasi penduduk usia muda (20-29 tahun) juga terjadi di seluruh China. Namun demikian, salah satu faktor penyebab khusus pada penurunan populasi muda di Beijing adalah migrasi anak-anak muda ke luar negeri atau ke provinsi lain.
Pada Juni 2026, CNA melaporkan bahwa anak-anak muda di Beijing mulai mempertimbangkan opsi untuk mencari peluang ekonomi di luar kota selepas lulus kuliah. Kota tier satu itu memang masih atraktif bagi anak muda sebagai batu loncatan untuk pendidikan dan karier.
Namun, daya tarik Beijing kini mulai dipertimbangkan kembali oleh sejumlah anak muda, mengingat persaingan kerja yang semakin ketat dan biaya hidup yang tinggi. Selain itu, provinsi lain dan negara luar juga dinilai menawarkan peluang yang lebih menarik.
Selain itu, data resmi pemerintah kota Beijing mencatat bahwa total jumlah penduduk relatif stabil dalam lima tahun terakhir, dengan penurunan tipis. Yakni dari 21,89 juta jiwa pada 2020 menjadi 21,83 juta jiwa pada akhir 2024.
Sehingga, angka ini menunjukkan bahwa fenomena berkurangnya jumlah penduduk muda dan peningkatan penduduk lanjut usia bukanlah penurunan jumlah penduduk, melainkan perubahan komposisi demografi penduduk di kota tersebut.
(Nadya Kurnia)