IDXChannel - Saat semua serba digital sekarang ini, ada satu bisnis yang masih bertahan dengan ke-konvensional-annya. Meski demikian, bisnis tersebut tetap beradaptasi mengikuti perkembangan zamannya lewat kreativitas dan konsep out of the box.
Inilah bisnis buku catatan alias notebook atau semacam jurnal. Notebook tersebut didesain sedemikian rupa, berisi kata atau kalimat motivasi, nyeleneh tapi kena di hati, sehingga kamu yang menentengnya semakin keren.
Fill The BlankSpace (FTBS) adalah salah satu pemain bisnis jurnal atau notebook kekinian. Bahkan sukses menjadi trensetter notebook dan jurnal di Indonesia.
Didirikan oleh Pohan Bersaudara, yakni Audria Pohan dan Febby Pohan pada Maret 2015, FTBS berawal dari hobi yang mengoleksi notebook, menulis diary, serta menuangkan ide-ide kreatif ke dalam tulisan di buku.
"Tadinya di 2015 belum terlalu ramai, lalu kami riset lagi, dan kami masukkan quote-quote motivasi, interaktif page, sehingga menjadi unique selling poin. Ini yang membedakan kami dengan notebook pada umumnya," ujar Febby dalam IG Live Break Time IDXChannel with Fill The BlankSpace, Jumat (15/12/2022).
"Kami ingin memberikan experience baru untuk konsumen, makanya ada interaktif page atau space, jurnal tematik khusus couple, sahabatan, dan menyediakan desain template. Ini keunikan kami, karena kebanyakan (jurnal lain) polosan," dia menambahkan.
Saat ini, diakui Febby, Fill The BlankSpace telah memiliki lebih dari 10 produk. Di antaranya jurnal planner, notebook, notepad, jurnal tematik, dan lainnya.
"Untuk harga jurnal dan notebook, kamu jual mulai dari Rp40 ribu sampai Rp190 ribu," ucapnya.
Febby mengingat masa lalu ketika awal merintis bisnis FTBS. Modalnya selain dana, tentu saja nekat dan tekad yang kuat. Selain itu, sambungnya, harus benar-benar suka dengan apa yang dijalankan.
"Awal-awal, pemasaran kami dari mulut ke mulut. Nawarin ke teman, keluarga dulu. Tapi sekarang harus beradaptasi ke digital marketing untuk pemasarannya, endorsement, instagram ads, dan lainnya," papar Febby.
Buah dari kerja kerasnya selama tujuh tahun, kata Febby, pelanggannya semakin banyak. Bukan hanya datang dari Indonesia saja, tetapi juga dari luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.
"Targetnya ke depan, lebih banyak lagi yang tahu depan produk kami. Juga ingin punya komunitas jurnal link, sehingga bisa meluncurkan produk jurnal yang kena di hati mereka," jelasnya.
Saat ini, Febby bilang, produk jurnal atau notebook-nya masih sebatas fisik. Belum mengarah ke jurnal digital. Bukan tanpa alasan dirinya mempertahankan bisnis konvensional ini.
"Kami masih percaya manfaat menulis menggunakan tangan dan kertas sangat banyak dibanding mengetik di HP. Salah satunya untuk kesehatan mental. Tapi kami tetap keep up dengan teknologi, karena mau tidak mau harus beradaptasi ke era yang serba digital ini," paparnya.
"Adaptasi kamu tentu saja memperluas digital marketing, kolaborasi dengan influencer, psikolog, brand, organisasi, dan semoga bisa dengan financial planner di tahun depan," tambah Febby.
Pada akhir segmen, Febby memberikan tips kepada siapapun yang ingin merintis bisnis jurnal kreatif. Pertama, jangan takut untuk memulai.
"Mulai saja dulu, jangan takut gagal karena semuanya kan berproses. Mau perencanaan se-perfect apapun, tetap akan improve di tengah jalan," pesannya.
Kedua, mau beradaptasi di dunia digital. Ketiga, sambungnya, tidak terlalu memproduksi banyak untuk produk jurnal kreatif. "Ini supaya ada nilai eksklusifitasnya. Terakhir, pelajari teknik digital marketing yang lagi hype seperti apa," tutupnya.
(Penulis: Ibadikal Mukhlisina/Magang)
(FAY)