AALI
9800
ABBA
188
ABDA
0
ABMM
2360
ACES
780
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7375
ADHI
815
ADMF
8100
ADMG
177
ADRO
2970
AGAR
318
AGII
1950
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
152
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1640
AKRA
1060
AKSI
294
ALDO
855
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
228
Market Watch
Last updated : 2022/06/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
544.03
0.56%
+3.01
IHSG
7042.94
0.64%
+44.67
LQ45
1018.99
0.57%
+5.77
HSI
21719.06
2.09%
+445.19
N225
26491.97
1.23%
+320.72
NYSE
14402.12
0.34%
+49.32
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,845
Emas
873,761 / gram

Ini Lho Sejarah Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia, Momen Paling Dinanti Para Perantau

MILENOMIC
Ratih Ika Wijayanti/SEO
Selasa, 26 April 2022 14:54 WIB
Sejarah tradisi mudik yang selalu dinanti para perantau setiap Lebaran tiba rupanya cukup unik.
Ini Lho Sejarah Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia, Momen Paling Dinanti Para Perantau. (Foto: MNC Media)
Ini Lho Sejarah Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia, Momen Paling Dinanti Para Perantau. (Foto: MNC Media)

IDXChannel – Tahukah Anda sejarah tradisi mudik yang selalu dinanti para perantau setiap Lebaran tiba? Rupanya, mudik memiliki asal-usul yang cukup unik. Mudik Lebaran memang seolah sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Terutama bagi mereka yang merantau ke luar daerahnya. Momen Idul Fitri menjadi momen penting bagi mereka untuk pulang ke kampung halamannya.

Lantas, bagaimana sejarah tradisi mudik di Indonesia? IDXChannel merangkum asal-usul tradisi mudik ini sebagai berikut. 

Sejarah Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia

Jika sekarang mudik selalu identik dengan Lebaran dan hari raya, siapa sangka bahwa dahulu  kata mudik dan Lebaran tidak berkaitan sama sekali. Kata mudik berasal dari bahasa Jawa ngoko yang memiliki arti  “mulih dilik” atau “pulang sebentar”. Kata mudik juga seringkali dikaitkan dengan kata “udik” yang memiliki makna “kampung”. Sehingga kata mudik kemudian memiliki makna yang lebih spesifik yakni “pulang ke kampung”.

Sementara itu, tradisi mudik sendiri merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang telah berlangsung sejak zaman Kerajaan Majapahit. Dahulu kala, para perantau pulang ke kampung halaman untuk membersihkan makam para leluhurnya. Mereka melakukan ini untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki. 

Seiring berjalannya waktu, istilah mudik Lebaran berkembang, tepatnya sejak tahun 1970-an. Pada waktu itu, Jakarta menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. Pemerintah Indonesia pun tersentral di Jakarta sebagai ibu kota negara. 

Tak heran jika banyak perantau memilih untuk bekerja dan mengadu nasib di Jakarta. Bahkan, tercatat lebih dari 80% para urbanis datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. 

Mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan di Jakarta tentu akan mendapatkan waktu libur panjang hanya pada saat Lebaran saja. Momen inilah yang kemudian mereka manfaatkan untuk kembali ke kampung halaman. 

Hal semacam ini lantas terus berlanjut hingga banyak pendatang yang merantau ke kota-kota besar. Tak hanya berpusat di Jakarta, tradisi ini juga berlangsung di ibu kota provinsi lainnya di Indonesia. Apalagi, setelah penerapan otonomi daerah pada tahun 2000-an, masyarakat Indonesia pun makin gencar memburu kota-kota besar sebagai tempat mengadu nasib dan mencari peruntungan. 

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD