AALI
9925
ABBA
400
ABDA
6500
ABMM
1555
ACES
1275
ACST
236
ACST-R
0
ADES
3050
ADHI
1085
ADMF
7800
ADMG
195
ADRO
1925
AGAR
330
AGII
1485
AGRO
2240
AGRO-R
0
AGRS
187
AHAP
71
AIMS
440
AIMS-W
0
AISA
204
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1070
AKRA
4290
AKSI
400
ALDO
960
ALKA
240
ALMI
246
ALTO
262
Market Watch
Last updated : 2021/12/08 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
504.74
-0.54%
-2.76
IHSG
6603.80
0.02%
+1.23
LQ45
945.59
-0.48%
-4.58
HSI
23996.87
0.06%
+13.21
N225
28860.62
1.42%
+405.02
NYSE
0.00
-100%
-16591.97
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,343
Emas
824,868 / gram

Simak Potensi Bisnis Belatung, Menjijikkan Tapi Bisa Cuan hingga Jutaan Rupiah

MILENOMIC
Advenia Elisabeth/MPI
Sabtu, 09 Oktober 2021 19:37 WIB
Siapa yang tak jijik jika melihat belatung. Bentuknya yang seperti ulat kecil warnah putih dan kerap kali ditemukan di bangkai, bekas makanan atau tempat sampah
Simak Potensi Bisnis Belatung, Menjijikkan Tapi Bisa Cuan hingga Jutaan Rupiah. (Foto: MNC Media)
Simak Potensi Bisnis Belatung, Menjijikkan Tapi Bisa Cuan hingga Jutaan Rupiah. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Siapa yang tak jijik jika melihat belatung. Bentuknya yang seperti ulat kecil warnah putih dan kerap kali ditemukan di bangkai, bekas makanan atau tempat sampah.

Tetapi jangan salah, binatang melata yang kerap kali dipandang sebelah mata ini bisa menghasilkan cuan sampai jutaan rupiah lho. Seperti Akbar, owner Maggot Putra Tangerang yang mampu menghasilkan maggot berton-ton dan untung jutaan rupiah dalam satu hari.

Walaupun dengan background bukan dari pembudidaya, namun dirinya mampu mengembangkan usahanya dari melihat peluang di masa pandemi. Selain itu juga, industri dapat membantu mengurangi jumlah limbah sampah pasar dan rumahan. Terlebih, usaha ini juga mudah dilakukan di rumah secara mandiri.

Sebelum merintis usaha maggot, pria berusia 31 tahun ini bercerita bahwa dirinya memiliki usaha event organizer (EO) dan percetakan. Namun, karena adanya pandemi yang mengakibatkan kebiasaan orang menjadi berubah, ditambah pembatasan mobilitas yang ditetapkan pemerintah, membuat dirinya banting setir beralih profesi.  

“Jadi dulu saya basicnya itu usaha EO dan juga percetakan. Cuma dalam masa pandemi selama dua tahun, kita tahu sendiri bahwa yang namanya izin ramai-ramai buat keluar itu kan nggak bisa karena dibatasi dengan protokol kesehatan. Selama enam bulan ini saya coba riset, salah satunya adalah ekonomi pangan dan ekonomi kesehatan. Nah, ekonomi pangan ini salah satunya adalah budidaya maggot, karena maggot itu adalah pakan ternak,” katanya seperti dikutip dalam kanal youtube Asumsi, Sabtu (9/10/2021).

Dia menjelaskan, maggot ini beda dengan belatung yang seperti pada umumnya. Maggot yang dia produksi adalah berasal dari lalat Black Soldier Fly (BSF) yang tidak mengandung penyakit. Sehingga cocok untuk dijadikan pakan ternak.

Lebih lanjut, Akbar memaparkan bahwa dalam kembangbiak maggot, lalat BSF memiliki siklus sendiri yang mau tidak mau saatnya larva lalat sudah menjadi larva dewasa harus segera dipanen agar tidak menjadi lalat lagi.

“Lalat ini punya siklus sendiri, yang mau tidak mau, dihari itu, ketika siklus ini lewat, ya akan lewat gitu aja. Dalam artiannya ketika maggot umur 15 hari sampai 18 hari tuh udah oke menjadi sumber protein. Tapi ketika sudah lewat 20 hari, itu akan menjadi pre-pupa yang akhirnya nanti akan menjadi lalat,” terangnya.

Akbar bilang, dalam memperluas jaringan pasar, ia mencoba untuk melakukan promosi melalui media sosial, facebook, Instagram, dan Youtube. Sehingga dari promosi tersebut banyak orang semakin mengenal dan akhirnya menambah pesanan.

“Kita coba main di medsos,terus di Youtube juga, ada liputan segala macam, akhirnya semakin banyak pesanan. Ngaruh banget memang penggunaan media sosial,” ujarnya.

Dia menyebut, pada saat membuka bisnis maggot hanya menghasilkan 500-600 kg per hari. Namun kini, usaha yang dirintisnya sudah mampu menghasilkan 1,2 ton per hari dengan lahan 1 hektar.

Adapun harga yang ditawarkan dari 1 kilogram maggot senilai Rp7 ribu, maka jika dalam sehari ia mampu menjual 1,2 ton, penghasilan yang didapat bisa mencapai Rp8,4 juta.

“Dulu waktu awal-awal cuma 500-600 kg. Sekarang sudah 1,2 ton sehari. Kalau skala industri, kita per hari, tinggal dihitung saja. Kalau kemarin itu 500-600 kg per hari dengan harga rata-rata Rp 6-7 ribu, jadi tinggal dikalikan saja,” tukasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD