sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

AS Pertimbangkan Larang Ekspor Solar untuk Redam Lonjakan Harga

News editor Wahyu Dwi Anggoro
23/09/2026 09:32 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Trump mengatakan bahwa ia akan mendukung pelarangan ekspor bahan bakar solar.
AS Pertimbangkan Larang Ekspor Solar untuk Redam Lonjakan Harga. (Foto: AP)
AS Pertimbangkan Larang Ekspor Solar untuk Redam Lonjakan Harga. (Foto: AP)

IDXChannel - Presiden Amerika Serikat (AS) Trump mengatakan bahwa ia akan mendukung pelarangan ekspor bahan bakar solar.

"Saya sudah sering mengatakannya, ayo kita berhenti mengekspor solar," kata Trump di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Kita memproduksi banyak solar. langkah ini mungkin juga dapat memengaruhi harga bensin mobil biasa," katanya, dilansir dari Yahoo Finance pada Rabu (23/9/2026).

Baru-baru ini, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa ia sedang mempelajari apakah larangan ekspor solar dapat meredam harga bahan bakar tersebut di AS.

Harga solar di AS telah menembus USD6,52 per galon, naik 77 persen dibangingkan dengan tahun lalu dan merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.

Lonjakan harga solar terutama didorong oleh krisis pasokan global akibat perang di Iran dan Ukraina. Sebagai bahan bakar yang banyak digunakan di berbagai industri, kondisi ini dapat mengerek harga konsumen.

"Ini akan menjadi bumerang dan bukan langkah yang baik," kata Kepala Analisis Perminyakan GasBuddy Patrick De Haan menanggapi wacana larangan ekspor solar 

"Harga solar AS ditentukan bukan oleh keseimbangan penawaran dan permintaan AS, tetapi oleh keseimbangan global. Menjaga distilat dan diesel di dalam negeri tidak mengubah harga dunia yang menjadi acuan harga kita. Anda tidak dapat membatasi komoditas yang diperdagangkan secara global dengan perintah eksekutif dan mengharapkan harga global berhenti berlaku untuknya," katanya di X.

Ekonom Joseph Brusuelas memperingatkan bahwa larangan ekspor justru dapat mendorong produsen energi AS untuk mengurangi produksi solar.

"AS memproduksi 5,3 juta barel per hari, sementara permintaan domestik harian sebesar 3,6 juta barel. Larangan ekspor akan menciptakan surplus domestik jangka pendek, yang kemudian harus dijual dengan harga diskon. Hal itu, pada gilirannya, dapat menyebabkan perusahaan energi mengurangi produksi, sehingga ujungnya harga akan kembali naik," katanya. (Wahyu Dwi Anggoro)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement