Lonjakan harga solar terutama didorong oleh krisis pasokan global akibat perang di Iran dan Ukraina. Sebagai bahan bakar yang banyak digunakan di berbagai industri, kondisi ini dapat mengerek harga konsumen.
"Ini akan menjadi bumerang dan bukan langkah yang baik," kata Kepala Analisis Perminyakan GasBuddy Patrick De Haan menanggapi wacana larangan ekspor solar
"Harga solar AS ditentukan bukan oleh keseimbangan penawaran dan permintaan AS, tetapi oleh keseimbangan global. Menjaga distilat dan diesel di dalam negeri tidak mengubah harga dunia yang menjadi acuan harga kita. Anda tidak dapat membatasi komoditas yang diperdagangkan secara global dengan perintah eksekutif dan mengharapkan harga global berhenti berlaku untuknya," katanya di X.
Ekonom Joseph Brusuelas memperingatkan bahwa larangan ekspor justru dapat mendorong produsen energi AS untuk mengurangi produksi solar.
"AS memproduksi 5,3 juta barel per hari, sementara permintaan domestik harian sebesar 3,6 juta barel. Larangan ekspor akan menciptakan surplus domestik jangka pendek, yang kemudian harus dijual dengan harga diskon. Hal itu, pada gilirannya, dapat menyebabkan perusahaan energi mengurangi produksi, sehingga ujungnya harga akan kembali naik," katanya. (Wahyu Dwi Anggoro)