El Nino yang kuat dapat memicu kekeringan di sebagian wilayah Amazon, Indonesia, dan Australia, serta gangguan monsun di India, dan pergeseran curah hujan di seluruh daerah tropis.
Fenomena ini biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan.
El Nino cenderung mencapai puncaknya di akhir tahun, tetapi panas dari lautan dilepaskan lebih lambat ke atmosfer, sehingga meningkatkan suhu global pada tahun berikutnya.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus Eropa baru-baru ini menyatakan bahwa pihaknya meyakini El Nino yang sangat kuat dapat terbentuk akhir tahun ini.
"Kemungkinan besar akan terjadi peristiwa yang moderat hingga kuat, atau mungkin kuat hingga memecahkan rekor," kata direktur layanan tersebut, Carlo Buontempo, kepada AFP. (Wahyu Dwi Anggoro)